Urgensi Pengembangan Local Knowledge Sebagai Fondasi Pendidikan Bangsa

Dalam perspektif antropologi, ilmu pengetahuan adalah suatu produk kebudayaan. Penelitian adalah proses menyusun ilmu pengetahuan dan pendidikan adalah proses nurturisasi atau proses transfer pengetahuan kepada generasi yang lebih muda. Mengingat keragaman cara hidup manusia, yang terpengaruh oleh keragaman kondisi tempat hidupnya, dan terpilah dalam berbagai budaya yang khas, sudah tentu produk pengetahuan di tiap komuniti akan menjadi beragam juga. Sebab itu para peneliti mengamini bahwa ada local knowledge yang khas di tiap komuniti. Disamping itu ada pengetahuan lokal yang bermanfaat positif dan berhasil membuat masyarakat itu bertahan, yang disebut dengan local wisdom atau kearifan lokal. Idealnya, suatu masyarakat sudah selayaknya tetap mewariskan local wisdom tersebut melalui pendidikan sebagai upaya menjaga identitas masyarakat mereka tetap eksis di tengah-tengah pergaulan dengan berbagai komunitas lain.

 

Namun globalisasi telah merubah cara komuniti mempertahankan khazanah pengetahuan lokalnya. Pertarungan kekuasaan tingkat tinggi di antara berbagai komuniti modern yang berbentuk negara telah berimbas besar pada eksistensi kearifan lokal yang dimiliki suatu komuniti. Pertarungan kekuasaan telah membawa proses difusi kebudayaan ke dalam bentuk yang paling ekstrem, yakni dominasi kekuatan militer, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, hingga ideologi dari negara yang kuat ke negara yang lebih lemah. Komuniti yang kuat berhasil membuat pengetahuan mereka menggeser eksistensi pengetahuan lokal komuniti yang lebih lemah, dan pada akhirnya itu berujung pada pergeseran identitas kebangsaan dari komuniti tersebut. Dari situasi inilah kita bisa melihat kondisi pendidikan di Indonesia saat ini.

 

Memang, sekarang adalah zamannya teknologi dan informasi. Bangsa yang abai dalam pengembangan aspek ini akan tertinggal di tengah lajunya inovasi teknologi bangsa-bangsa lain. Sebab itu memang tidak ada salahnya pendidikan di Indonesia mengejar ketertinggalan di bidang ini dengan mengimpor berbagai produk pengetahuan dari negara-negara yang lebih maju. Namun seperti yang saya jelaskan di atas, produk pengetahuan dari bangsa lain pada dasarnya tidak lepas dari konteks kebudayaan dan kepentingan bangsa tersebut. Jika pengetahuan itu ditelan mentah-mentah tanpa ada proses filterisasi, akan terjadi friksi dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat penerima. Masalahnya, di Indonesia, kebijakan ekonomi dan politik pemerintah, yang sering kali terjerat oleh kepentingan asing, cenderung menempatkan produk pengetahuan yang diimpor di atas angin. Sementara khazanah pengetahuan lokal tidak dianggap kompeten dan kurang dikembangkan. Jika hal ini yang terus berlanjut, negeri ini mungkin saja bisa saja maju dalam sains dan teknologinya, namun pada saat yang sama, bangsa kita akan kehilangan akar identitasnya. Tercerabut dari kearifan para pendahulunya, akan pengetahuan yang bijak dan berdasar pada kondisi alam serta hubungan sosial yang asali di negeri ini. Secara perlahan, kita mulai meninggalkan pengetahuan yang telah membuat nenek moyang kita bertahan di nusantara ini.

 

Pandangan saya ini boleh-boleh saja dikatakan sangat romantic, terjebak masa lalu, atau gagal move on. Untuk apa sih bicara tentang local knowledge di zaman High-Tech? Tapi kita perlu kembali pada pemahaman awal, bahwa sains dan teknologi asalinya adalah produk kebudayaan suatu komuniti. Sementara setiap produk kebudayaan pada dasarnya bersifat dinamis, karena dipengaruhi kondisi komuniti, dan mempengaruhi arah perkembangan komuniti. Artinya sains dan teknologi sebagai bagian dari kebudayaan tidak bersifat stagnan, namun ikut berubah seiring dengan upaya komuniti beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungan alam dan kondisi relasi-relasi sosial.

 

Sebab itu, daripada terus-menerus mengimpor pengetahuan yang di produksi bangsa lain, yang sesungguhnya dikembangkan dari local knowledge mereka, apa salahnya bangsa Indonesia secara serius berupaya mengembangkan pengetahuan lokal kita untuk bisa menjadi bagian yang menopang sains masa kini, dan turut menjadi pihak yang bisa mengekspor pengetahuan untuk masyarakat dunia? Mengapa kita belum juga membangun kesalarasan sains-tekno dengan nilai-nilai tradisi? Padahal Jepang telah membuktikan bahwa sains dan tradisi adalah penopang utama yang membuat negeri para bushido itu menjadi salah satu entitas yang unik dan eksklusif di dunia ini. Indonesia sebagai salah satu lumbung pengetahuan lokal di dunia, sudah saatnya mulai menumbuhkan satu-persatu dari pengetahuan itu, menjadikannya pengetahuan yang adaptif dengan kondisi negeri ini. Sehingga bisa menjadi warisan bagi anak negeri dan sumbangan bagi masyarakat dunia.

Rahmad Efendi

Memperoleh sarjana dari Antropologi Unpad. Senang membaca manga. Sedang belajar di bidang tulis menulis. Berminat dengan berbagai kajian tentang relasi kekuasaan dan ekonomi politik, terutama dalam korelasinya dengan isu pembangunan, sains, teknologi dan masyarakat.