Sebuah Cerita di Balik Pabrik Berita

Pada suatu hari yang masih dini, sekitar jam dua pagi, kami, sekelompok muda-mudi remaja lanjut turun dari angkot jurusan Cileunyi-Sumedang, di depan gerbang pasar Tanjung Sari, Jawa Barat. Kami ada lima orang, empat cowo, satu cewe. Yang terakhir adalah saya, satu-satunya perempuan di kelompok itu. Pagi itu kami sedang menjalankan misi untuk membuat peliputan aktivitas pasar, dari dinihari sampai subuh menjelang.

 

Eits.. jangan salah sangka, kami bukanlah sekelompok mahasiswa ilmu komunikasi, apalagi awak media. Kami adalah sekelompok mahasiswa tingkat dua jurusan Antropologi Unpad. Salah satu mata kuliah kami meminta sebuah kajian tentang pasar, dan kami memilih membuat liputan. Mengapa? Karena salah satu anggota kelompok mengusulkan agar kami membuat format laporan berupa video dengan alur cerita seperti program “Jika aku menjadi” yang sedang popular di salah satu televisi nasional.

 

Di pagi yang tak buta itu (lampu-lampu di pasar sudah menerangi jalan kami), awalnya kami mengkondisikan situasi, yakni menyampaikan pada beberapa pedagang bahwa kami akan meliput aktivitas mereka dengan para pembelinya, dan satu permintaan lagi, ada kru kami yang akan turut terlibat dalam interaksi itu, sebagai orang yang mewawancarai. Orang itu adalah saya. Singkat cerita seluruh sesi peliputan sudah usai, kami pun balik ke basecamp di kampus Unpad Jatinangor. Setengah mengerjakan laporan tertulis, sisa lainnya mengerjakan editan video.

 

Hasil dari liputan dan kajiannya kami presentasikan di kelas. Kami mendapat apresiasi bagus dari dosen, mengingat sajian yang lengkap, yakni ada kajian dan video dokumentasinya juga. Namun, hal yang paling saya ingat, dosen kami itu bilang, “videonya bagus.. ya mungkin karena wajah kamu aja yang muncul di videonya, sepertinya kamu punya bakat untuk menjadi reporter tivi.” Waktu itu komentar beliau memicu tawa dari teman-teman sekelas, mungkin mereka menganggap itu hanya humor belaka.

 

Tapi tahukah anda? Lima tahun kemudian, saya beneran resmi menjadi seorang reporter, di salah satu televisi berita terkemuka nasional, yakni Metro TV. Bukan bermaksud untuk pamer, tapi cerita ini adalah bukti kejelian seorang guru dalam melihat potensi muridnya. Selain itu, mungkin juga bisa menjadi bukti bahwa apa yang kita jalani hari ini, sesungguhnya adalah buah dari upaya-upaya kecil yang telah kita bangun sejak dulu.

 

Dua tahun sudah saya menjalani profesi sebagai reporter, hingga akhirnya memutuskan untuk resign beberapa bulan yang lalu. Berbagai pengalaman yang saya temui selama itu begitu menarik. Banyak hal yang saya pelajari dari profesi ini. Namun, pada saat yang sama, banyak juga yang menjadi bahan pertanyaan dalam pikiran saya, terutama saat saya menggunakan perspektif antropologi saat memandang aktivitas yang saya jalani itu.

 

Lewat tulisan ini saya mencoba menceritakan bagaimana pengalaman saya bekerja di industri media, bagaimana ilmu antropologi membantu saya dalam profesi ini, dan mencoba merefleksi pertanyaan-pertanyaan yang sering saya ajukan mengenai aktivitas industri ini. Berikut ceritanya, selamat mengikuti.

 

Media Massa sebagai Katalitasor Partisipasi Publik dalam Politik

 

Publik kiritis akan janji politik yang ditayangkan media. Via indopos.co.id

 

Dewasa ini, berbagai pandangan miring tentang media massa semakin sering muncul kepermukaan. Katanya “media makin tak mendidik”, “media massa kini menjadi alat politik”, “sekarang tidak ada media yang menjunjung tinggi kenetralan. Seluruhnya berpihak “… dan lain sebagainya.. Tentunya itu bukanlah pemikiran yang salah. Kita tidak dapat menyangkal bahwa sejak beberapa tahun terakhir beberapa media massa turut serta bermain di ranah politik.

 

Menurut saya, ada satu kontradiksi, meski sadar akan keberpihakan media, faktanya pembicaraan publik tetap bersedia digiring media. Meski demikian, hal itu juga menghasilkan efek samping yang saya bilang positif, yakni peningkatan partisipasi publik dalam perbincangan politik. Munculnya pandangan miring dari publik terhadap media sendiri pada dasarnya berkaitan dengan meningkatnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang intrik-intrik politik.

 

Hal ini dibuktikan, melalui banyaknya survei yang menunjukan bahwa pengetahuan politik masyarakat dalam satu tahun terakhir meningkat signifikan. Menariknya, peningkatan pengetahuan dan kesadaran publik akan dunia politik, salah satunya adalah hasil kerja media.

 

Satu contoh yang saya temui dari pengalaman pribadi, yakni dampak media terhadap pandangan politik masyarakat pasca pilpres. Sebagai jurnalis yang baru saja turut serta dalam dunia media, saya kira “pertentangan keras’ yang sempat terjadi dalam suasana pemilihan pimpinan negara pada 2014 lalu, terutama disebabkan oleh propaganda media.

 

Media memproduksi berita yang sangat masif dengan dua sisi sudut pandang kontradiktif (mengingat hanya ada dua paslon presiden yang bertarung). Media berhasil menghidupkan sumbu-sumbu perdebatan publik, tentang calon mana yang paling baik untuk Indonesia. Hal itu memicu daya nalar dan menghidupkan perspektif kritis masyarakat tentang kedua calon yang bertarung.

 

Namun tak sampai disitu, propaganda media yang begitu masif itu telah berhasil menanamkan pada masyarakat untuk terus mengikuti serta mengkritisi tokoh, kebijakan, dan juga perkembangan dunia politik tanah air, bahkan setelah pilpres berakhir.

 

Sebagai lulusan antropologi, saya begitu tertarik melihat daya transformasi media yang begitu kuat di masyarakat. Awalnya saya pikir ucapan dosen tentang “ilmu antropologi akan kalian temukan di berbagai bidang kehidupan manusia” adalah ungkapan narsis semata. Namun saya menemukan kebenaran akan hal itu ketika menjadi ‘buruh media’.

 

Ya, betapa Ilmu Antropologi secara luar biasa, membantu saya menalar kerja-kerja media yang begitu kuat mempengaruhi masyarakat. Setidaknya, dari perspektif antropologi, saya bisa melihat bagaimana media telah memanfaatkan ilmu tata bahasa, perspektif gender, dan strategi marketing, sebagai kunci untuk memperkuat daya transformasi propagandanya.

 

Judul Berita sebagai Mantra Sakti Propaganda

 

Berbagai media menggunakan aneka ragam judul berita yang menarik perhatian. Via aginapuspa.blogspot.com

 

Media dapat membentuk pandangan ‘baik-buruk’ dan ‘benar-salah’ di masyarakat dengan waktu instan. Bahkan bisa mengubah nasib. Masih hangat dibenak kita kasus mundurnya Ketua DPR RI Setya Novanto dari jabatannya karena diduga melanggar kode etik sebagai wakil rakyat.

 

Betapa media memegang tongkat komando luar biasa untuk memainkan isu, membesarkan pemberitaan, hingga membentuk jargon-jargon rakyat ‘PAPA MINTA SAHAM’ guna mendekatkan kasus ini ke seluruh lapisan masyarakat.

 

Terbukti, jargon papa minta saham pun lekat dalam perbincangan di masyarakat dan memicu dinamika politik yang luar biasa. Akibatnya, tekanan rakyat tak hanya hadir bagi oknum terkait, tapi juga bagi pihak Mahkamah Kehormatan Dewan untuk memberhentikan oknum tersebut dari jabatannya. Teriakan ini bahkan terjawab melalui pengunduran diri oknum terkait.

 

Jargon-jargon yang diciptakan media sebenarnya cukup mudah kita sadari saat membaca headline berita di suatu media. Biasanya, jargon-jargon itu ditulis sebagai judul yang kontroversial, dan tak jarang provokatif. Lebih lagi di media digital, biasanya jargon-jargon itu diulang dan terus diulang hingga berita itu tidak laku lagi.

 

Jargon-jargon lain yang mungkin tanpa kita sadari sering hadir dalam media-media yang kita lahap misalnya :

 

“Pemerintah menabur, DPR ngawur”

“Golkar si beringin tak bertuan”

“Indonesia menjadi rahim baru peredaran narkotika”

“Bakar lahanku, terbit sawitku”

“Indonesia darurat terorisme dan radikaslime”

Dan lain sebagainya..

 

Apa yang dilakukan media dengan pemanfaatan jargon untuk menciptakan isu viral yang menggiring opini publik mengingatkan saya akan pelajaran dibangku kuliah dahulu. Saya pernah diajarkan oleh dosen antropologi linguistik, bahwa bahasa adalah simbol-simbol signifikan. Dalam hal ini jargon adalah bahasa yang dipadatkan, sehingga sarat dengan makna simbolis. Sebab itu jargon lebih mudah melekat di benak publik ketimbang untaian analisis nan rumpil. Karena itu pulalah, jargon adalah mantra sakti yang akan selalu dipakai oleh media untuk menggaet atensi dan menggiring opini publik.

 

Rupa dan Penampilan Awak Media sebagai Strategi Marketing Utama

 

IMG-20160114-WA0019
Make over presenter berita

 

Walaupun belum sempat tergabung secara langsung dalam proses perkembangan aspek bisnis dari media tempat dulu saya bekerja, saya cukup akrab dengan beberapa strategi marketing media tersebut. Perspektif antropologi membimbing saya untuk melihat hal yang jarang diperbincangkan ketimbang pencapaian share traffic suatu media. Saya melihat aspek rupa dan penampilan yang sangat penting untuk strategi marketing media berita.

 

Channel NEWS tempat saya bekerja tentulah amat berbeda dengan channel-channel entertainment yang banyak ‘menjual’ artis sebagai pendongrak rating. Namun strategi marketingnya bisa dikatakan bekerja pada aspek yang sama, misalnya terkait komodifikasi relasi gender dan penampilan para awak media.

 

Aspek pertama yang saya liat dari strategi marketing media ini terkait dengan pemilihan gender untuk penyaji berita. Bisa dikatakan presenter dan reporter Metro TV lebih banyak yang perempuan daripada laki-laki. Media ini menyadari bahwa masyarakat Indonesia memilih channel tertentu bukan hanya karena beritanya, namun juga karena tertarik dengan pembawa acaranya.

 

Inilah salah satu tantangan, ketika media tempat kita bekerja memiliki target pasar yang berbeda. Metro TV sebagai salah satu channel berita di Indonesia memilih untuk membidik masyarakat di ‘kelas sosial A dan B plus twenty.‘ Artinya adalah masyarakat di kelas sosial menengah ke atas dengan usia diatas 19 tahun. Hal ini membuat kesan ‘ekslusif’ yang hadir di masyarakat terhadap media ini.

 

Wartawan Metro TV pada dasarnya dituntut bisa masuk ke berbagai kelas sosial, mulai dari para pejabat, pengusaha, hingga masyarakat kecil. Sebab itu, penampilan dan attitude menjadi modal penting untuk bisa diterima berbagai kalangan. Para awak media dituntut untuk memberikan citra yang ekslusif sebagai representasi media ini.

 

Hal itu dapat jelas terlihat dari uniform yang digunakan awak Metro TV yang didesain dengan tampilan ekslusif. Para presenter media berita ini mendapat treatment dan make-up yang setara dengan artis-artis media entertain. Bahkan reporter lapangan pun dibekali cara berdandan saat akan tampil dilayar kaca. Tidak heran ditengah banjir pun kami tetap membawakan berita dengan wajah segar dan menawan.

 

Metro TV memilih calon-calon reporter dan presenter yang berpenampilan menarik, cantik dan rupawan. Sebab, wajah-wajah yang cantik dan rupawan menjadi nilai jual penting bagi layar NEWS. Yakni untuk memanjakan mata para penonton di tengah serentetan berita “yang terkadang sebenarnya sama sekali tidak menarik untuk diperhatikan.”

 

Pesona wanita-wanita cerdas yang berpenampilan menarik memang salah satu senjata media ini. Kehadiran mereka melekat di benak pemirsa. Misalnya seperti yang pernah saya dengar sendiri. “Mba e, Saya suka sekali dengan Najwa Shihab. Sudah cantik, tegas, pintar. Salam ya mba, saya nonton terus Metro TV mau liat mba Najwa…” ucap seorang tukang becak di kawasan Semarang pada saya.

 

Patut kita catat, tidak hanya Metro TV yang menggunakan strategi ini. Bisa dikatakan semua media televisi menjadikan modal rupa dan penampilan awak media dan artis-artisnya sebagai pemikat. Hanya saja menjadi semakin menarik ketika kita menyadari bahwa suatu media yang segmentasinya menjual berita, ternyata tetap perlu kemolekan rupa agar informasinya dilirik pemirsa.

 

Strategi marketing media dengan memanfaatkan pilihan gender dan penampilan ini adalah isu yang menarik. Pada satu sisi saya melihat banyaknya presenter-reporter cantik dan cerdas yang dimiliki Metro TV adalah bentuk pembuktian media itu dalam mendukung emansipasi wanita.

 

Namun, perspektif kritis antropologi membawa saya pada pertanyaan lanjutan. Apakah benar begitu, bahwa emansipasi adalah tujuan utamanya? Atau mungkinkah itu lebih kepada kepentingan bisnis semata? Mengingat hegemoni patriarki yang begitu dominan, kehadiran awak media yang memikat itu boleh jadi adalah tuntutan kultur patriarki yang tak dapat dihindari lagi, sebagai penyejuk mata pemirsa berita yang mayoritasnya adalah laki-laki. Sejujurnya, hal ini masih menjadi pertanyaan yang menarik bagi saya.

 

Satu hal yang saya pelajari, media massa adalah corong budaya popular. Media tak akan lepas dari budaya popular yang sedang berkembang, sebab itulah yang mereka jual. Terkait dengan concern Metro TV mengenai penampilan awak medianya agar terlihat menarik, elegan dan intelek, saya lihat hal itu adalah strategi media ini untuk menjadi membangun simbol bahwa mereka adalah media yang kredibel.

 

Dapat kita lihat bahwa setelan awak media tersebut mengingatkan pada penampilan masyarakat Western (Eropa Barat dan Amerika). Sebagian besar warga negara Indonesia memiliki pemahaman bahwa Western adalah lambang kecerdasan. Penampilan seperti itu merepresentasikan orang yang intelek, dan layak menjadi sumber berita terpercaya. Di situlah letak strategi pemasaran dari penampilan awak media Metro TV ini. Setidaknya, itulah yang saya pahami dari pengalaman saya bekerja di sana.

 

Lulusan Antropologi dalam Industri Media

 

IMG-20160114-WA0022
Tantangan bekerja sebagai reporter

 

Sebagai seorang wartawan, banyak sekali suka duka yang harus saya hadapi. Misalnya, ketika harus melakukan peliputan investigasi tentang kebakaran hutan dan lahan, dengan angle berita yang sudah ditetapkan kantor bahwa kebakaran hutan dan lahan dilakukan SENGAJA oleh perusahaan-perusahaan perkebunan. Namun sesampainya di lokasi, tak ada satupun barang bukti yang bisa kita dapatkan serta berbagai kesulitan lainnya. Bahkan terkadang saya tidak punya banyak waktu untuk mengerjakannya.

 

Dalam kondisi demikian, ilmu antropologi banyak membantu saya untuk membuat stakeholder mapping, baseline study, kronologi permasalahan, yang akhirnya mengerucut dengan poin-poin peliputan yang bisa saya lakukan. Tujuannya memudahkan saya mencari tokoh-tokoh utama dalam kasus yang bisa diwawancara langsung, serta terbentukah skema pra peliputan yang kita sebut dengan nama tutor.

 

Selaku awak media, sering kali saya dituntut untuk membuat karya penulisan yang ramah atau nikmat dibaca semua kalangan masyarakat. Apalagi untuk kategori berita politik yang terkadang berat untuk dikonsumsi publik. Saya beruntung pernah belajar antropologi linguistik. Saya bisa cepat belajar dan mencari inspirasi untuk menciptakan gaya bahasa yang ‘ramah’ bagi publik dengan memanfaatkan jargon-jargon dalam membuat berita.

 

Profesi selaku reporter menuntut saya untuk bertemu puluhan watak orang di setiap harinya. Tidak hanya dari kelas menengah kebawah, bahkan saya dituntut berbicara langsung dengan presiden, menteri, dan tokoh hebat lainnya serta dituntut mensejajarkan posisi saya dengan mereka dalam hal intelektual. Bahkan hal ini lebih sering dibandingkan berbicara atau peliputan di kelas masyarakat menengah kebawah.

 

Keterampilan berkomunikasi dan mensejajarkan tingkat intelektualitas dengan para petinggi-petinggi pemerintah, suatu organiasi atau perusahaan pada awalnya cukup menjadi tantangan bagi saya. Sebabnya, selulusnya saya dari jurusan antropologi, mindset bahwa antropolog harus ahli di pedesaan dan menguak permasalahan-permasalahan di desa terutama seputar masyarakat sederhana masih begitu kuat di diri saya.

 

Sehingga awalnya saya kurang memperoleh bekal pengetahuan yang cukup tentang peliknya permasalahan di ranah pemerintahan dan dunia politik. Namun saya ingat wejangan seorang senior “Antropolog itu harus bisa hidup dimana pun. Gali ilmu ini jangan sempit-sempit. Cari terus, agar kamu bisa hidup dimana pun.” Di tengah kesulitan yang saya hadapi saat itu, pemikiran tersebut yang saya terapkan. Sehingga secara perlahan saya mulai terbiasa dan mendapat banyak pelajaran dari industri media ini.

 

Lalu sebagai sarjana antropologi yang pernah bekerja di industri media, apa yang telah saya dapatkan? Banyak hal. Jalan-jalan gratis dalam dan luar negeri bukanlah hal langka. Kesempatan ngobrol bersama menteri, menyapa akrab dan mengkritisi presiden, bisa sms-an dengan pak gubernur, tentu saja menjadi pengalaman hidup yang tak terlupakan.

 

Selain itu saya mendapatkan berbagai kesempatan pengembangan diri, ditambah bonus mendapatkan akses dan jaringan dengan berbagai pihak-pihak yang bisa saja bermanfaat di masa depan.

 

Epilog

 

IMG-20160114-WA0021
Menjadi pekerja media memberi pengalaman yang sangat berharga

 

Tulisan ini, bolehlah saya sebut sebagai autoetnografi saat saya berkecimpung di dunia industri media. Refleksi dari pengalaman ini menghasilkan kesimpulan, menurut saya industri media merupakan ladang yang menarik dan patut digeluti para lulusan baru.

 

Saya rasa tak ada tips khusus bagi lulusan baru untuk memasuki lapangan kerja. Dengan menjadi pribadi yang supel, cerdas, memiliki softskill, jujur, santun, dan berani saya yakin lulusan antropologi bukanlah lagi sarjana minim pekerjaan.

 

Apalagi di tengah perkembangan ekonomi dunia yang pesat, misalnya saat Masyarakat Ekonomi Asean telah berjalan, peluang kita diperluas hingga ke seluruh wilaya Asia Tenggara. Hanya perlu keberanian untuk memajukan diri dan membuktikan bahwa ilmu dan keterampilan yang kita miliki memang berguna untuk berbagai bidang kehidupan.

 

Sukses selalu untuk para alumni Antropologi…

Rahma Safitri

Alumnus Antropologi Unpad, 2 tahun bekerja di bidang reportase media televisi, kini melanjutkan minat di bidang entrepreneurship.