Perspektif Antropologi dalam Kajian Sosioteknologi

Secara umum sosioteknologi merupakan suatu epistemologi pengembangan sains dan teknologi dengan menggunakan sudut pandang sosikultural manusia. Sosioteknologi ini memiliki peran dan fungsi dalam mentransformasikan suatu masyarakat menjadi lebih kritis, kreatif dan inovatif dengan meningkatkan pemahaman masyarakat akan peran dan fungsi teknologi dalam kehidupan manusia (Nasution, 2005).

 

Sosioteknologi mencoba menelaah lebih jauh tentang keterkaitan manusia dan teknologi. Penelaahan ini berkaitan dengan implikasi yang ditimbulkan teknologi terhadap segi-segi kehidupan dan penghidupan masyarakat. Sosioteknologi fokus terhadap pengelolaan bagaimana dampak dan peran teknologi dalam meningkatkan kualitas hidup manusia dan mengelola bagaimana sikap dan penerimaan yang baik dari masyarakat terhadap teknologi tersebut (Sinaga, 2001). Oleh karena itu, studi sosioteknologi diarahkan pada pengkajian dampak perkembangan teknologi terhadap sistem sosial manusia.

 

Berbicara tentang sosioteknologi tentu perlu membahas bagaimana relasi antara manusia dan teknologi. Sebagai langkah awal, perlu diketahui terlebih dahulu pemahaman konseptual mengenai teknologi itu sendiri. Teknologi merupakan penerapan secara sistematis dari pengetahuan-pengetahuan ilmiah untuk keperluan-keperluan praktis (Harahap, 1990). Pengetahuan-pengetahuan tersebut terakumulasi dalam kemampuan teknik dan intelektual yang diaplikasikan secara praktis dalam menciptakan produk (barang atau jasa) untuk keperluan umat manusia. Produk-produk ini terdapat dalam sistem kompleks dan mempengaruhi sistem lain seperti sistem religi, sosial, politik dan moral. Karena itulah teknologi bersifat fungsional dan menjadi bagian dari komponen kebudayaan (Ladhrire, 1990).

 

Dalam sudut pandang antropologi, teknologi menunjukkan tingkat kebudayaan suatu masyarakat. Konsep ini dimunculkan oleh Leslie White (dalam Gunawan, 2009) dalam mengkaji evolusi kebudayaan yang dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya lingkungan yang menghasilkan energi untuk perkembangan masyarakat. karena itulah teori evolusi budaya memberikan tekanan pada perbedaan tingkat kebudayaan masyarakat dunia beradasarkan tingkat teknologi yang mereka miliki.

 

Dalam konteks evolusi kebudayaan, masyarakat di dunia ini sangat beragam sekali jika dilihat dari perkembangan teknologinya. Evolusi kebudayaan ditunjukkan oleh terjadinya inovasi teknologi yang berasal dari penemuan manusia akibat interaksinya dengan lingkungan fisik, seperti contoh munculnya teknologi penggunaan api, munculnya teknologi saluran irigasi, munculnya kemampuan menulis, munculya pemanfaatan logam, munculnya teknologi mesin dan seterusnya hingga munculnya teknologi tinggi pada masa sekarang ini. dalam sudut pandang evolusi budaya, perkembangan tersebut tidak sama pada seluruh masyarakat dunia. Ada masyarakat yang telah maju perkembangan teknologinya, ada juga masyarakat yang masih sederhana tingkat teknologinya.

 

Sementara itu teknologi juga menjadi tema sentral dalam pendekatan Materialisme budaya yang dicetuskan oleh Marvin Harris (1979). Dalam pendekatan materialism kebudayaan, Harris melihat teknologi sebagai salah satu faktor pendukung infrastruktur dalam aspek produksi yang menjadi landasan perkembangan suatu masyarakat. Karena itulah teknologi tidak dapat dipisahkan dari aspek ekonomi dan organisasi sosial suatu masyarakat. Harris melihat teknologi dari suatu kelompok manusia merupakan sistem yang menyeluruh tentang pengetahuan manusia dalam aspek produksi, yang berasal dari interaksi manusia dengan lingkungannya. Teknologi mencakup penggunaan alat-alat, pola kerja, sistem pengetahuan dan informasi yang dimiliki oleh para pekerja, dan sumberdaya organisasi untuk aktivitas produksi.

 

Sebagai contoh, penulis mengambil pandangan Boserup (1965, dalam Gunawan, 2010) lewat tulisannya yang dikenal dengan Model Kontra Malthus. Boserup menjelaskan bahwa meningkatnya pertumbuhan penduduk maka akan meningkatkan pertumbuhan pangan. Disini Boserup menggunakan pendekatan materialism budaya dan evolusi kebudayaan. Dia melihat bahwa penduduk akan merespon meningkatnya kebutuhan pangan dengan mengembangkan teknologi pertanian. Pengembangan teknologi pertanian tersebut ditunjukkan dengan perubahan menuju intensifikasi tata guna lahan, perubahan metoda kultivasi dan perubahan peralatan pertanian. Perubahan teknologi tersebut akan memicu kompleksnya organisasi sosial ekonomi yang ada di dalam masyarakat sebagai bentuk berbagi peran dan kerja.

 

Dalam pendapatnya, Boserup menekankan kemampuan penduduk dalam mengatasi keterbatasannya terhadap penguasaan alam sebagai pemenuhan kebutuhan hidup. Menurut Boserup, meningkatnya populasi akan mendorong semakin kompleksnya pengetahuan populasi akan pemenuhan kebutuhan hidup. Dalam hal ini, Boserup mencontohkan perubahan yang terjadi pada masyarakat ladang berpindah. Ketika populasi meningkat, masa istirahat lahan yang ditinggalkan masyarakat akan semakin sebentar karena tuntutan pemenuhan kebutuhan. Bahkan ketika populasi semakin besar, akan terjadi perubahan dari ladang berpindah menjadi ladang menetap dengan pengembangan intensifikasi tata guna lahan dan pengembangan alat-alat pertanian. Secara eksplisit pandangan Boserup ini menunjukkan bagaimana proses perubahan suatu populasi masyarakat ladanga berpindah menjadi populasi menetap dan pengeksplotasi lahan yang terorganisir. Hal tersebut menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi dapat mengakibatkan terjadinya perubahan tingkat kebudayaan masyarakat.

 

Referensi:
Gunawan, Budhi. (2010). Land Degradation, society, and Watershed management. Materi Kuliah. Sumedang : Jurusan Antropologi Fisip Unpad.
Gunawan, Rimbo. (2009). Leslie a. White: energy and the evolution of culture. Materi Kuliah. Sumedang : Jurusan Antropologi Fisip Unpad.
Harahap, Filipino. (1990). Pemindahan Teknologi. Dalam Mangunwijaya, Y.B.1983. Teknologi dan dampak Kebudayaan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Harris, Marvin. (1979). Cultural Materialism : The Struggle for a science of Culture. New York: Random House.
Ladriere, Jean. (1990). The Challenged Presented to Culture by Science and Technology. Unesco.
Nasution, Zaid Perdana.( 2005) . Peran Sosioteknologi dalam Perpindahan Teknologi. Departemen Teknik Sipil USU : Medan.
Sinaga, Anggiat. ( 2001). Sains Teknologi dan kemasyarakatan, suatu epistemologi pengembangan pengetahuan. Warta Sosioteknologi ITB.

Sumber : el-noya.blogspot.com 

Rahmad Efendi

Memperoleh sarjana dari Antropologi Unpad. Senang membaca manga. Sedang belajar di bidang tulis menulis. Berminat dengan berbagai kajian tentang relasi kekuasaan dan ekonomi politik, terutama dalam korelasinya dengan isu pembangunan, sains, teknologi dan masyarakat.