Pengantar Singkat Tentang Antropologi

Mendeskripsikan Antropologi

 

Istilah Anthropology sendiri telah menceritakan kisah mendasar tentang ilmu tersebut. Anthropology berasal dari bahasa Yunani, yakni anthropos (manusia) dan logos (ilmu), dalam arti luasnya adalah ilmu tentang manusia. Bahasa Indonesia menyadur istilah tersebut menjadi Antropologi, dengan makna yang kurang lebih sama. Antropologi dipahami secara jamak sebagai disiplin ilmu yang mengkaji umat manusia, sejak dari jutaan tahun yang lalu, hingga saat ini. Antropologi adalah disiplin yang menjadikan manusia sebagai subjek sekaligus objek kajian, karena itu tidak ada manusia yang akan dialienasikan. Pendeknya, dari semua disiplin yang mengkaji spesies kita, Homo Sapiens, hanya Antropologi yang mengkaji secara keseluruhan eksistensi manusia tanpa membatasinya dengan ruang dan waktu tertentu.

 

Meskipun mudah didefinisikan, sulit untuk mendeskripsikan bagaimana aktivitas disiplin Antropolog, karena tema yang diperhatikan Antropologi sangat kompleks. Antropologi mengkaji mulai dari hal-hal eksotik hingga keseharian hidup yang terlihat biasa-biasa saja. Antropologi menyapukan pandangan pada persoalan besar dan mikroskopik pada saat yang sama. Antropologi bahkan mempelajari berbagai artifak masa lalu dan bisa mengambil hikmahnya untuk membaca budaya perusahaan manufaktur di masa kini. Kompleksitas perhatian ini membawa Antropologi menjadi disiplin yang sangat luas sekaligus spesifik.

 

Semua kompleksitas dari  perhatian antropologi memiliki tujuan untuk mencari jawaban atas rasa ingin tahu terkait siapa kita, bagaimana kita muncul dan dengan cara apa, serta akan kemanakah kita di masa depan. Semua rasa ingin tahu itu berakar dari sifat universal manusia, curiosity . Manusia selalu tertarik melihat pada diri sendiri maupun kepada orang lain, mempertanyakan berbagai persoalan kehidupan dan kematian, dan seluruh gejala yang terlihat di seluruh dunia.  Oleh karena itu, tanpa sadar sebenarnya tiap-tiap manusia di muka bumi telah melakukan aktivitas antropologis sejak dari kemunculannya.

 

Perilaku abadi spesies manusia yang selalu membuat perbandingan terhadap segala sesuatu yang mereka lihat, dengar, dan rasakan telah menjadi ilham dalam pembentukan metode penelitian komparatif yang dimiliki Antropologi. Sebagai suatu disiplin ilmu, Antropologi memulai dengan hal sederhana, namun merupakan sebuah ide luar biasa. Logika dalam penelitian Antropologi yaitu : “berbagai detail terkait perilaku kita sehari-hari bisa dipahami lebih baik bila melihatnya dari latar belakang lengkap perilaku umat manusia.” Inilah metode komparatif yang dikembangkan antropologi. Metode yang bertujuan untuk menjelaskan persamaan dan perbedaan di antara manusia, dalam konteks dimana kemanusiaan dilihat sebagai sebuah keseluruhan.

 

Antropolog melakukan perbandingan budaya antar masyarakat yang berbeda, dalam kerangka melihat perilaku sosial yang mewujud dalam kehidupan manusia, dan mengambil apa makna hakiki dari perwujudan tersebut. Mereka melihat ragam cara manusia berkomunikasi, baik dalam bentuk bahasa, pakaian, dan cara pandang terhadap kehidupan, dan berusaha menemu-kenali benang merah struktur logika di baliknya. Antropolog mencari gejala manusia, yang membuat manusia berbeda dari hewan, yang membuat satu masyarakat unik dari yang lain, namun menjadi penanda adanya kemanusiaan dalam diri manusia.

 

Untuk menemukan gejala itu, antropolog seringkali membandingkan masyarakat yang mereka teliti dengan masyarakat asal mereka sendiri. Dengan cara itu, biasanya antropolog bahkan bisa mendapat cara pandang baru untuk melihat masyarakat asalnya. Gejala manusia yang muncul dari keragaman perilaku berbagai masyarakat di dunia, memunculkan kesadaran, bahwa kompleksitas yang ada di masyarakat mana pun saat ini dan di masa depan, baik itu berupa persoalan ekonomi, hukum, pendidikan, kesehatan, kebijakan, dan berbagai hal lainnya, hanyalah sebuah perkembangan dari akar kehidupan manusia, yakni biologi manusia, kebudayaan, cara berkomunikasi, dan sejarah masa lalu.

 

Sebagai kesimpulan, dari proses kelahiran, metode yang dikembangkan, hingga tujuan dari disiplin, Antropologi pantas dinobatkan sebagai sebuah bidang ilmu yang membuat kita menjadi manusia. Sebuah disiplin yang memanusiakan kemanusiaan.

 

Empat Ranah Kajian Antropologi

 

Antropologi mempelajari manusia secara holistik, baik di saat ini, masa lalu, dan di masa depan. Antropolog membangun disiplin dari ini sumbangan beragam ilmu pengetahuan, mulai dari ilmu sosial, hayati dan humaniora. Upaya mengkaji secara holistik saja bukan pekerjaan yang mudah. Untuk itu, para antropolog di dunia, terutama di Amerika, membagi kajian Antropologi dalam empat ranah. Tujuannya agar tiap ranah bisa mengembangkan kajiannya secara fokus dan efektif, mengingat ada perbedaan metode dan teori dari empat ranah tersebut. Namun meski setiap ranah memiliki aktivitas mandiri, para antropolog seringkali mengintegrasikan beberapa perspektif dari empat ranah itu dalam aktivitas riset, pengajaran, dan kehidupan sehari-hari mereka.

 

Arkeologi

 

Para antropolog telah mengambil pendekatan yang holistik untuk memaknai dan menghargai ragam perbedaan pengalaman manusia, di berbagai masyarakat, di seluruh dunia, di masa lalu, dan masa kini.  Antropolog mengkaji masa lalu, melalui Arkeologi, untuk melihat bagaimana kelompok manusia hidup di masa ratusan, ribuan, hingga jutaan tahun yang lalu, dan apa yang penting bagi mereka. Antropolog yang fokus pada ranah ini biasanya lebih dikenal sebagai Arkeolog, ketimbang Antropolog. Meski demikian, baik Antropolog maupun Arkeolog, mereka yang terlibat dalam ranah ini fokus dalam menjelaskan kesamaan dan perbedaan antara berbagai masyarakat manusia lintas ruang dan waktu.

 

Arkeologi mempelajari budaya dan masyarakat masa lalu dari sisa-sisa material, seperti artifak, arsitektur dan landscape. Bukti-bukti material seperti gerabah, alat-alat dari batu, tulang binatang, dan sisa-sisa bangunan,  digunakan untuk memeriksa kehidupan masa lalu dengan konteks paradigma teoritis tertentu, seperti bentuk-bentuk kelompok sosial yang ada, ideologi-ideologi yang dianut, pola-pola perilaku subsisten, dan pola interaksi dengan alam. Seperti ranah antropologi lainnya, arkeologi menggunakan metode komparatif. Arkeologi mengasumsikan hal-hal yang mendasar dari kemanusiaan berlanjut di sepanjang ruang dan waktu. Namun Arkeologi juga memahami bahwa setiap masyarakat adalah produk dari sejarah mereka sendiri, hal itu telah membuat setiap masyarakat memiliki ciri khusus yang berbeda dengan masyarakat lainnya.

 

Antropologi Biologi

 

Antropologi Biologi berupaya memahami bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda, bagaimana datangnya penyakit dan kematian, dan mengapa manusia lebih berkembang di banding hewan lainnya. Ahli antropologi biologi  tertarik dengan bagaimana biologi dan budaya bekerja bersama membentuk kehidupan manusia. Mereka juga mencari perbedaan dan persamaan dari umat manusia di seluruh dunia. Ahli antropologi menyatakan, bahwa meski ada perbedaan, namun  ada lebih banyak persamaan di antara spesies manusia.

 

Ketertarikan utama antropologi biologi adalah mencari tahu bagaimana asal mula kondisi biologis manusia, bagaimana evolusi dan variasinya. Ranah ini menginvestigasi hal-hal yang bisa terjadi dalam kerangka teori evolusi, seperti bagaimana sebenarnya tempat kita di alam, dan bagaimana kita beradaptasi dengan lingkungan tersebut dan menghasilkan beragam evolusi biologis. Untuk memahami proses tersebut, para antropolog biologis mempelajari primata lain (primatologi), fosil-fosil nenek moyang (paleoantropologi), manusia prasejarah (bioarkeologi), biologi (misalnya kesehatan, kognitif, hormon, pertumbuhan dan perkembangan),  dan genetika.

 

Antropologi Linguistik

 

Antropologi Linguistik mempelajari ragam cara manusia berkomunikasi di seluruh dunia. Ranah ini tertarik dengan bagaimana bahasa bisa menyambungkan cara kita memandang dunia dan cara kita berhubungan dengan individu lainnya. Antropologi linguistik mencari tahu bagaimana bahasa digunakan dalam beragam bentuk, dan bagaimana bahasa berkembang sepanjang waktu. Ranah ini juga mengeksplorasi apa yang kita percayai terkait bahasa dan komunikasi, dan bagaimana kita menggunakannya dalam kehidupan. Termasuk di dalamnya cara kita menggunakan bahasa untuk membangun dan berbagi suatu makna, untuk membentuk dan merubah identitas, serta untuk membentuk dan merubah relasi kekuasaan. Bagi antropolog linguistik, bahasa dan komunikasi adalah kunci untuk memahami bagaimana kita membangun masyarakat dan budaya.

 

Antropologi linguistik menggunakan metode komparatif untuk mempelajari bagaimana bahasa merefleksikan dan mempengaruhi kehidupan sosial. Penggunaan bahasa dilihat sebagai perwujudan dari pola komunikasi, formulasi dari berbagai kategori identitas sosial dan keanggotaan dari suatu kelompok, sebuah pengorganisasian skala besar dari berbagai nilai keyakinan, budaya, dan ideologi, dan, dalam hubungannya dengan bentuk-bentuk lain penciptaan-makna, melengkapi orang-orang dengan budaya bersama yang merepresentasikan kehidupan di lingkungan sosial mereka. Antropologi linguistik berkontribusi bagi ilmu antropologi dalam upaya memahami kekuasaan, ketidakadilan, dan perubahan sosial, khususnya bagaimana aspek-aspek tersebut dibentuk dan direpresentasikan lewat wacana dan bahasa.

 

Antropologi Sosial Budaya

 

Antropologi sosial budaya mengeksplorasi bagaimana kehidupan orang-orang dari berbagai tempat yang berbeda dan bagaimana mereka memahami lingkungan di sekitarnya. Para antropolog sosial budaya ingin mengetahui apa yang paling penting menurut orang-orang dan bagaimana orang-orang membuat aturan-aturan tertentu untuk membangun interaksi dengan orang lain. Antropolog sosial budaya konsen pada hal ini dengan alasan bahwa, bahkan dalam satu masyarakat atau negara, orang-orang mungkin bisa tidak sepakat tentang bagaimana seharusnya mereka berbicara, berpakaian, makan, dan memperlakukan orang lain.

 

Antropolog sosial budaya ingin mendengarkan semua suara dan sudut pandang untuk tujuan memahami bagaimana perbedaan dan kesamaan yang ada di masyarakat. Mereka seringkali menemukan bahwa cara terbaik untuk mempelajari keragaman manusia dan kebudayaan di suatu masyarakat adalah dengan menghabiskan waktu hidup bersama masyarakat tersebut. Para antropolog sosial budaya ini berusaha untuk memahami perspektif, sikap, dan organisasi sosial dari kelompok masyarakat lain yang mungkin saja memiliki nilai dan cara hidup yang berbeda dengan mereka. Pengetahuan yang mereka kumpulkan itu bisa memperkaya pemahaman tentang manusia di tingkat yang lebih luas.

 

Antropolog sosial budaya mempelajari pola dan praktik sosial di berbagai budaya, dengan perhatian khusus terhadap bagaimana manusia hidup di tempat tertentu dan bagaimana mereka menciptakan, menyusun, dan mengelola makna. Antropologi sosial budaya memiliki perhatian khusus pada isu ras, seksualitas, kelas, gender dan kewarganegaraan. Penelitian dalam antropologi sosial budaya terkenal dengan penekanan pada partisipasi observasi. Pendekatan yang melibatkan penempatan diri sendiri dalam konteks riset dalam waktu yang lama untuk mendapatkan sudut pandang pelaku terkait bagaimana pengetahuan lokal digunakan untuk bergelut dengan berbagai masalah praktis dari kehidupan sehari-hari dan dengan persoalan-persoalan filosofis mendasar dari pengetahuan, kebenaran, kekuasaan, dan keadilan. Topik-topik kajian utama dari antropologi sosial budaya meliputi kesehatan, pekerjaan, ekologi dan lingkungan, pendidikan, pertanian dan pembangunan, serta perubahan sosial.

 

Artikel ini dikembangkan dari terjemahan bebas dan elaborasi tulisan yang berjudul What is Anthropology di www.bu.edu,  What is Anthropology di www.aaanet.org dan About Anthropology di www.thisisanthropology.com.

Rahmad Efendi

Memperoleh sarjana dari Antropologi Unpad. Senang membaca manga. Sedang belajar di bidang tulis menulis. Berminat dengan berbagai kajian tentang relasi kekuasaan dan ekonomi politik, terutama dalam korelasinya dengan isu pembangunan, sains, teknologi dan masyarakat.