Menolak Tunduk Pada Ketakutan

Di tengah kongres AAI & ADJASI, kami dikejutkan oleh berita pengeboman di Jln. M Thamrin, Jakarta (14/01). Terorisme, untuk tujuan apapun, pada dasarnya menyerang psikologi publik. Aksi efektif yang sengaja dilakukan untuk memicu ketakutan masal hingga sentimen negatif atas negara ini.

 

Para pengebom itu, atau siapapunlah yang ada di balik mereka, paham betul, publik sangat mudah terbawa arus informasi yang dihembuskan dari berbagai media, apalagi zaman online saat ini, informasi itu bahkan dihantarkan langsung lewat berbagai gadget yang dipakai orang-orang.

 

Dengan satu aksi yang menyentak, serangan di siang bolong, di pusat ibu kota, bahkan orang-orang yang jauh di pelosok daerah ikut merasa keamanan dirinya ikut terancam. Itulah tujuan dari terorisme, menanamkan ketakutan dan keraguan akan kemampuan negara menjamin keselamatan warganya. Artinya, teror dilakukan untuk meruntuhkan kepercayaan warga pada negara.

 

Pengeboman kali ini cepat ditanggapi sebagai suatu konspirasi. Mengingat adanya isu penting yang harusnya menjadi perhatian publik dalam waktu dekat, yakni deadline pengajuan saham dari Freeport dan kasus penangkapan anggota DPR oleh KPK. Insiden ini segera dipandang miring sebagai pengalihan isu.

 

Jika teori konspirasi itu bisa dibuktikan, sungguh luar biasa kejahatan HAM yang telah dilakukan oknum dibalik peristiwa ini. Tuduhan konspirasi ini memang tidak spesifik pada satu pihak yang pasti, namun tentu saja dapat kita baca itu mengarah pada pihak-pihak yang berkepentingan dengan isu-isu yang hendak dialihkan. Namun, pada dasarnya konspirasi adalah suatu hal yang sangat sulit untuk dibuktikan.

 

Sebaliknya, kita juga bisa melihat bahwa para dalang teror ini adalah pihak yang sangat paham akan kecenderungan teori konspirasi itu. Mereka memanfaatkannya untuk menggandakan efek aksinya, tidak hanya membuat warga negara meragukan kemampuan negara menjaga keselamatan warganya, lebih jauh bisa membangun kebencian yang lebih dalam pada negara, bahwa negara mengorbankan warganya untuk mengalihkan isu, untuk menjaga kepentingan pihak-pihak tertentu.

 

Apapun itu bentuk terornya, yang perlu kita lakukan adalah menolaknya. Jangan terbawa suasana dan ikut membesar-besarkan berita. Kelatahan publik dalam menyebarkan isu teror ini adalah kemenangan bagi dalangnya. Misi mereka akan berhasil jika kita ikut serta membawa ketakutan itu ke ranah yang lebih besar.

 

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, kita turut berduka atas korban yang berjatuhan. Kita semua, baik yang menerima informasi teror, para korban di jalanan, maupun pelaku yang tadi telah ditembak mati, adalah korban dari kepentingan para dalang yang duduk tenang di balik ini.

 

Sebab itu, mari kita kurangi jumlah korban dari peristiwa ini. Stop berita-berita yang tidak jelas sumbernya, konfirmasi terlebih dahulu. Jangan ikut serta menyebarkan ketakutan. Mari ikut serta membangun suasana yang lebih tenang, dengan memberi kabar bahwa di tempatmu suasana aman terkendali.

 

Kami di UI dalam keadaan aman di bawah lindungan tuhan, karena tuhan bersama human.

Salam

Rahmad Efendi

Memperoleh sarjana dari Antropologi Unpad. Senang membaca manga. Sedang belajar di bidang tulis menulis. Berminat dengan berbagai kajian tentang relasi kekuasaan dan ekonomi politik, terutama dalam korelasinya dengan isu pembangunan, sains, teknologi dan masyarakat.