“Menjadi Antropolog” Sebuah Wawancara dengan Abriveno Y.L. Pitoy, Peneliti di INRIK LPPM Unpad

bang veno

“Menjadi Antropolog” merupakan sebuah tulisan yang menyajikan wawancara terhadap para antropolog (dan para profesional yang turut berkecimpung dalam dunia antropologi). Tulisan ini menyajikan refleksi narasumber mengenai pendidikan antropologi dan upaya mengaplikasikan ilmu antropologi di ranah pekerjaan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk sumber informasi dan inspirasi, lewat gambaran variasi ranah pekerjaan, skill, dan kompetensi yang dimiliki para antropolog kepada semua orang yang tertarik terhadap apa yang sebenarnya dilakukan oleh para antropolog.

Dalam tulisan kali ini kami menyajikan wawancara dengan narasumber yaitu Abriveno Y.L. Pitoy, peneliti di Indonesian Resource Centre for Indigenous Knowledge [INRIK]-Pusat Pengetahuan dan Kearifan Lokal Indonesia, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Padjadjaran (Unpad), dan lulusan dari Program Sarjana Antropologi FISIP Unpad serta Program Magister Ilmu Lingkungan (Konsentrasi Manajemen Sumberdaya Alam dan Lingkungan) Unpad.

Sebagai lulusan dari jurusan antropologi, bagaimana pandangan bang Veno terhadap pengembangan karir lulusan antropologi saat ini? 

Terkait dengan karir lulusan antropologi, ada hal penting yang perlu saya sampaikan terlebih dahulu agar kita bisa memandang masalah karir ini dengan jernih. Perlu disadari bahwa setiap orang itu punya prinsip, punya ideologi masing-masing, terkait apa yang mereka cari dalam hidup ini. Ideologi ini berimplikasi pada pekerjaan yang dipilih, mau di bidang apa, dan mau bagaimana cara mendapatkannya. Seperti misalnya orang yang berprinsip mengutamakan kekayaan harta akan memilih lapangan pekerjaan yang dapat mendatangkan penghasilan besar. Atau seperti orang yang berprinsip mengutamakan kekayaan karya akan lebih berorientasi dengan pekerjaan yang bisa memberi ruang pada minatnya tersebut.

Hal itu tentu saja juga terjadi pada lulusan antropologi. Oleh karena itu tidak aneh jika ada lulusan antropologi yang berpenghasilan besar dan ada juga yang penghasilannya tidak besar. Mereka tidak dapat disamakan, karena masing-masing punya alasan. Mungkin saja yang berpenghasilan tidak besar itu menggunakan waktu mereka untuk menghasilkan banyak karya seperti hasil penelitian, jurnal, buku dsb. Dan mungkin juga yang berpenghasilan besar tidak sempat untuk untuk melakukan itu. Semua itu punya alasan, yang pasti, masing-masing lulusan antropologi pasti punya kebanggaan tersendiri atas bidang kerja yang mereka geluti.

Sebetulnya, bagi lulusan antropologi itu sudah tersedia banyak lapangan pekerjaan. Memang selama ini sering lulusan antropologi memilih berkarir di bidang akademik, apakah jadi guru, dosen atau jadi peneliti. Namun sebenarnya tidak harus seperti itu, lulusan antropologi bisa memilih bidang pekerjaan apa saja yang disukai. Bekal dari ilmu antropologi yang mengutamakan kemampuan meneliti dan menganalisis akan sangat terpakai di bidang pekerjaan apapun. Dengan bekal tersebut, lulusan antropologi bisa banyak berperan sebagai konsultan dan pembuat perencanaan strategis yang memiliki pertimbangan komprehensif terkait dengan kehidupan manusia.

Dewasa ini lowongan pekerjaan untuk lulusan antropologi terbuka lebar, antara lain seperti di bidang penelitian sosial-budaya, kehutanan, perdagangan dan bisnis, CSR dan community development, manajemen penanggulangan bencana, bagian HRD, bidang-bidang teknis seperti rekayasa teknologi, bahkan di bidang perikanan kelautan dan masih banyak bidang lainnya. Semua bidang pekerjaan itu pasti berhubungan dengan manusia, oleh karena itu lulusan antropologi sudah memiliki bekal untuk terlibat di dalamnya. Tentu saja berbagai teknik seperti metode penelitian dan analisis yang dikembangkan dari teori dan konsep antropologi menjadi kekuatan utama dalam menjalani peran tersebut.

Hanya saja, semua itu kembali pada pribadi masing-masing, bagaimana memanfaatkan bekal tersebut. Lulusan antropologi memiliki banyak pilihan pekerjaan, asal mau menggunakan ilmunya sebagai bekal dan alat untuk mendapatkan pekerjaan tersebut, itu kuncinya. Semua itu tentu saja telah dimulai sejak menjalani pendidikan antropologi di bangku perkuliahan. Mahasiswa yang memiliki alasan yang jelas ketika memilih jurusan antropologi serta memiliki alasan yang jelas dalam memilih mata kuliah yang didalaminya cenderung akan mengerti bagaimana menggunakan ilmu tersebut.

Selain itu, bagi mahasiswa dan lulusan antropologi yang ingin sukses, tentu saja mereka melakukan upaya mengembangkan dan meningkatkan kapasitas diri dengan berbagai softskill. Seperti keterampilan dalam menulis, fotografi, desain, pemetaan, bahkan keterampilan bermusik sekalipun. Mereka yang ingin sukses menyadari sepenuhnya bahwa penguasaan terhadap berbagai softskill akan sangat membantu  dalam mengembangkan karir di masa depan.

Persoalannya, saat ini banyak diantara mahasiswa dan lulusan antropologi yang tidak percaya diri dengan ilmunya sendiri. Jika ditinjau lagi, kegamangan mereka sebenarnya bukan karena ilmu antropologinya, tapi lebih karena diri mereka yang tidak menguasai ilmu tersebut dengan baik. Selain  itu, persoalan tersebut juga dipicu karena mereka kurang mengembangkan kapasitas dan keterampilan personal yang diperlukan dalam dunia kerja. Sekarang mahasiswa antropologi (saya coba lihat dari mahasiswa Antropologi Unpad) sedang mengalami degradasi pada beberapa aspek.

Pertama, banyak diantara mahasiswa antropologi saat ini yang sangat lemah pemahamannya akan teori dan konsep dalam antropologi. Kalau pemahaman terhadap konsep dan teori saja sudah lemah,  akan lebih lemah lagi kemampuan mereka untuk mengaplikasikannya dalam berbagai bidang kehidupan. Kedua, kurangnya etika sosial dan softskill mahasiswa antropologi saat ini. Kepercayaan diri mereka lemah, sehingga cenderung sulit untuk tampil menunjukkan siapa dirinya. Meski mahasiswa atau lulusan antropologi ahli tentang manusia, kalau etika sosialnya tidak bagus, kan jadi repot nantinya.

Terkait dengan masalah pertama, seperti tadi saya bilang, penekanan atas masa depan lulusan antropologi sangat tergantung pada diri mereka masing-masing. Meski pembentukan dari jurusan antropologi tempat mereka belajar juga memegang peranan penting, para mahasiswa antropologi jangan mencukupkan apa yang didapat dari jurusan saja. Carilah di dunia luar hal-hal baru yang dapat menunjang perkembangan pengetahuan dan keterampilan terkait antropologi. Jangan menjadi mahasiswa yang textbook, jangan sekedar mengejar IPK tinggi, dan jangan menjalani perkuliahan sebagai beban. Cobalah membuka rasa keingintahuan yang sebesar-besarnya terhadap antropologi, jangan pernah merasa puas, kalau tidak cukup dari kuliah, cari di dunia luar segala sesuatu yang menarik bagi kita, belajarlah dengan have fun.

Pengalaman saya dulu seperti itu, saya mencari pengembangan ilmu ini di luar. Sewaktu kuliah saya tidak mendapatkan studi antropologi pariwisata, antropologi bencana, gerakan sosial, antropologi pangan, antropologi teknologi, antropologi terapan, dan antropologi olahraga, saya malah mendapatkan ilmu mengenai bidang tersebut dari berbagai aktivitas yang saya jalani di luar perkuliahan. Kalau tidak salah, baru-baru ini kajian mengenai antropologi pariwisata sudah menjadi mata kuliah dan kajian antropologi tentang bencana mulai dilirik oleh beberapa mahasiswa untuk dijadikan skripsi.

Terakhir, sangat perlu diingat oleh semua mahasiswa dan lulusan antropologi, bahwa sedari awal, jangan pernah melupakan aktivitas menulis dan membaca karena dua hal itulah yang menjadi kunci utama untuk mengembangkan kapasitas seorang antropolog. Selain itu, hobi bahkan minat untuk jalan-jalan ke mana saja diperlukan untuk menunjang naluri seorang antroplog tersebut.

Kemudian terkait dengan masalah kedua, dalam membangun komunikasi dengan orang lain, tentu saja cara berbicara, bersikap, berpakaian serta kesopan-santunan merupakan softskill yang musti dimiliki oleh siapa saja, tak terkecuali mahasiswa dan lulusan antropologi. Hal itu sangat penting, mahasiswa atau lulusan antropologi dituntut harus bisa menyesuaikan diri dengan segala medan.

Misalnya jika diundang dalam kegiatan resmi seperti pertemuan, konferensi, seminar dan lain sebagainya, tentunya harus bisa menyesuaikan diri dengan etika sosial lapangan tersebut. Setidaknya kenakanlah pakaian yang sesuai dan bersikaplah selayaknya anggota masyarakat yang beretika. Sementara ketika bertugas di lapangan seperti wilayah hutan atau pinggir pantai, tentunya harus bisa juga menyesuaikan sikap dan penampilan dengan situasi dan kondisi tempat tersebut.

Sebagai ahli manusia, sudah selayaknya mahasiswa dan lulusan antropologi itu tidak pernah takut dan harus mampu menghadapi apapun macam manusianya. Tentunya hal itu hanya bisa terjadi jika kita bisa menjaga sikap, sopan santun dan etika agar tidak memicu penolakan atau sesuatu yang bisa membahayakan diri sendiri. Saya harus tekankan disini, lulusan antropologi harus mempersiapkan diri untuk bisa bekerja dengan siapapun. Ilmu kita menuntut pemahaman yang holistik mengenai manusia, oleh karena itu antropologi pasti bersinggungan dengan berbagai bidang lain, seperti hukum, ekonomi, biologi, teknologi dan sebagainya. Tentu saja antropolog dituntut harus bisa bekerja sama dengan ahli-ahli lainnya yang kompeten di masing-masing bidang tersebut.

Seperti yang saya ketahui, saat ini bang Veno bekerja di INRIK  LPPM Unpad. Bagaimanakah sebenarnya peran bang Veno di INRIK ini?

Saat ini saya berperan sebagai peneliti di INRIK, tetapi juga membantu dalam manajemen di INRIK LPPM Unpad. Ya kerjaannya meliputi dari penyusunan program kerja, membuat rencana penelitian, dan melakukan penelitian.

Bagaimana bang Veno mengaplikasikan ilmu antropologi di INRIK?

Saya jelas sangat menggunakan ilmu antropologi dalam berbagai pekerjaan di INRIK. Baik dari konsep, teori, metodologi, dan lain sebagainya. Apalagi dalam melakukan penelitian dan pendataan tentang pengetahuan dan kearifan lokal Indonesia. Akan tetapi, saya pun menggunakan atau minimal mengerti bagaimana cara kerja ilmu lainnya dalam berbagai penelitian dan kegiatan di INRIK karena INRIK merupakan pusat penelitian dan pengembangan yang lintas disiplin.

Seperti yang saya jelaskan tadi, meskipun INRIK dapat dikatakan sebagai “anak kandung”-nya Antropologi Universitas Padjadjaran, tetapi sangat jelas bahwa penelitian dan pengembangan pengetahuan dan kearifan lokal memerlukan disiplin ilmu lainnya.

Sejauh pengetahuan saya, INRIK Unpad ini awalnya memang dibangun oleh Jurusan Antropologi Unpad dan Prof. Kusnaka (alm) merupakan tokoh pendirinya. Sebagai mahasiswa antropologi saya sangat tertarik dengan aktivitas INRIK ini. Saya pernah mencoba mencari informasi lebih banyak mengenai lembaga ini melalui perambah internet, sayangnya sedikit sekali informasi yang bisa diperoleh. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya ingin bertanya kepada bang Veno, sesungguhnya apakah tujuan, target serta kegiatan-kegiatan dari INRIK Unpad ini?

Sebetulnya yang lebih layak menjawab pertanyaan itu adalah Prof. Ade Moetangad Kramadibrata selaku Kepala INRIK LPPM Unpad dan Bu Prihatini Ambaretnani, Ph.D selaku sekretaris INRIK LPPM Unpad. Tapi dalam kesempatan ini saya coba menjelaskan secara umum, untuk lebih detail mungkin nanti bisa ngobrol dengan pak Ade.

Kegiatan-kegiatan INRIK pada saat ini antara lain seperti kegiatan diskusi ilmiah yang diadakan rutin setiap bulan, menjalankan pekerjaan-pekerjaan riset dan konsultasi, serta menjalankan beberapa program community development. Kemudian juga turut terlibat dalam Ekspedisi NKRI Sulawesi yang telah lewat dan Ekspedisi NKRI Maluku di tahun 2014  yang saat ini diwakili oleh rekan-rekan saya, Mirna Dianita, Igor Herlisrianto, dan Malikkul Saleh yang notabene semuanya bukan dari antropologi. Mirna dan Igor dari Ekonomi, Malikkul dari Kelautan dan Perikanan.

Selain beberapa kegiatan di atas, pada dasarnya core dari aktivitas INRIK ada tiga, yaitu : 1) Penelusuran (scouting) database bentuk-bentuk kearifan lokal dan pengetahuan lokal di Indonesia. Aktivitas Ini masih terus dilakukan, pekerjaan masih belum selesai karena banyak sekali kekayaan kearifan lokal masyarakat Indonesia yang belum terinventarisir dengan benar. 2) Upaya pengembangan, dari bentuk-bentuk kearifan dan pengetahuan lokal yang ada kemudian dikembangkan menjadi bentuk-bentuk yang lebih aplikatif bagi masyarakat luas. Seperti pengembangan pengetahuan lokal di bidang UKM, kesehatan, pertanian dan lainnya. 3) Perlindungan hukum terhadap masyarakat yang memiliki kearifan lokal tersebut, seperti perlindungan HAKI, hak pemanfaatan, dan sebagainya.

Sampai saat ini INRIK sudah melakukan ketiga hal tersebut. Memang masih cenderung pada kegiatan pertama, karena masih sangat banyak pengetahuan dan kearifan lokal asli Indonesia yang belum terdata. Kecenderungan berikutnya adalah kegiatan konsultatif. Seperti misalnya dalam desain produk, ada namanya grassroot-inovation, yakni inovasi yang diciptakan oleh orang awam, bukan dari universitas, ilmuan, pemerintah, atau perusahaan swasta besar. Misalnya kita temukan produk olahan strawberi di daerah Lembang yang diciptakan oleh penduduk lokal. Kita melakukan riset untuk membantu pengembangan inovasi tersebut. Kita melihat bagaimana pengembangan yang mereka lakukan, bagaimana jaringan sosialnya, bagaimana potensi pasarnya, dan berbagai hal lainnya. Sehingga setelah penelitian, kita bisa memberikan saran pengembangan, yang tentunya juga diminta oleh penemu inovasi tersebut. Disinilah peran konsultatif kita lakukan.

Kegiatan konsultasi itu juga terkait bidang lingkungan hidup, misalnya dalam penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), seperti bagaimana pengembangan dan pelestarian lingkungan juga perlu memperhatikan pengetahuan dan kearifan lokal.Misalnya kita mencoba mempromosikan tata ruang berbasiskan kearifan lokal. Seperti contoh dalam penataan hutan, adanya upaya pengembangan hutan lindung harus mengikutsertakan peran orang setempat. Hal itu terkait pengetahuan lokal mereka tentang hutan tersebut, kekayaan hayati di dalam hutan dan upaya pemanfaatannya.

Seperti yang kita ketahui, dalam dunia ilmiah, kekayaan genetik  dan plasma nutfah baru akan ditemui setelah melalui riset ilmiah yang rumit. Oleh karena itu para ilmuan baru bisa sekedar mengetahui bahwa tumbuhan itu ada tapi belum tahu apa gunanya. Namun ternyata orang lokal bisa menunjukkan manfaat tumbuhan tersebut pada kita karena mereka sudah mengenal dan sudah menggunakannya sejak lama. Pengetahuan dari orang lokal itu bisa menjadi petunjuk penting bagi para ilmuan tentunya. Oleh karena itulah, INRIK sangat concern terhadap pengetahuan masyarakat lokal.

Jadi itulah kegiatan INRIK sekarang. Pelan-pelan kita mulai membenahi lembaga ini. INRIK ke depannya akan terus melakukan kegiatan yang pertama dan mengembangkannya untuk menciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat luas. INRIK itu lebih lintas disiplin, sehingga anggota timnya berasal dari berbagai bidang ilmu. Ada dari antropologi, teknologi pertanian, perikanan kelautan, ekologi, hukum, dan ekonomi. Ini juga merupakan hal yang sangat penting, meskipun INRIK dibentuk oleh jurusan antropologi, tapi kita harus siap lintas disiplin.

INRIK juga terbuka bagi mahasiswa yang ingin magang, dari jurusan mana saja dipersilahkan. Namun magang di INRIK khusus bagi mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir. Beban kerja akan menyesuaikan kondisi mahasiwa tersebut. Kegiatan magang di INRIK ini terutama lebih seperti upaya membantu mahasiswa itu menyelesaikan skripsinya karena sebagian besar pekerjaan magang, yakni 70-80% adalah kegiatan menyelesaikan tugas akhirnya sendiri.

Dalam kegiatan magang ini INRIK memberikan fasiltas seperti konsultasi, memberikan bahan, akses menggunakan kantor INRIK untuk mencari bahan atau mengerjakan tugas akhirnya. Bahkan INRIK juga sedang merencanakan untuk memberi support finansial bagi mahasiswa yang magang. Harapannya, melalui program magang ini INRIK mencoba membantu para mahasiswa tersebut untuk mengembangkan diri menjadi bibit-bibit peneliti yang berkualitas di masa depan.

Jadi itulah penjelasan secara umum tentang INRIK mungkin untuk informasi yang lebih mendalam nanti bisa didapat dari wawancara dengan Prof. Ade Moetangad Kramadibrata Bu rihartini Ambaretni Ph.D.

***

Biodata Singkat Narasumber

Abriveno Y.L. Pitoy

Peneliti di Indonesian Resource Centre for Indigenous Knowledge [INRIK]-Pusat Pengetahuan dan Kearifan Lokal Indonesia, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Padjadjaran (Unpad). Relawan di Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB), Bandung. Lulusan dari Program Sarjana Antropologi FISIP Unpad serta Program Magister Ilmu Lingkungan (Konsentrasi Manajemen Sumberdaya Alam dan Lingkungan) Unpad. Sempat menjadi Ketua Huria Mahasiswa Antropologi (Human) Universitas Padjadjaran pada periode 2002-2003. Juara I Nasional Sayembara Penulisan Sejarah Kebudayaan Indonesia Tingkat Mahasiswa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2005.

Korespondensi: abrivenopitoy@gmail.com

Catatan : Sejak Maret 2014 bang Veno bekerja di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

Rahmad Efendi

Memperoleh sarjana dari Antropologi Unpad. Senang membaca manga. Sedang belajar di bidang tulis menulis. Berminat dengan berbagai kajian tentang relasi kekuasaan dan ekonomi politik, terutama dalam korelasinya dengan isu pembangunan, sains, teknologi dan masyarakat.

More Posts - Website

Follow Me:
FacebookGoogle Plus

  • Ari

    waa, mantabs infonya bro

  • Anonim

    Salam antropologi , benar yang diskripsikan abang kita perlu mempunyai softskill yang telah di dapat dari masa perkuliahan dan juga pengalaman di luar.
    Sapatau abang berkeinginan berkolaborasi dengan lembaga penelitian AntropoNesia (ANReIns) kami bergerak bidang masyarakat maritim dan pesisir pulau-pulau.

    salam. Gunardi (ANReIns)

    • Salam antropologi juga gunardi, dulunya bang Veno memang aktif mengembangkan kajian antropologi maritim. tapi sekarang beliau sudah bekerja di BNPB, mungkin kalau mau mengajak beliau, gunardi bisa langsung korespondesi langsung via email. oia, kami baru dengar ada lembaga ANReins, boleh tau informasi tentang ANReins ?