Mau Kemana Sarjana (Antropologi)?

Teman-temanku, para mantan mahasiswa antropologi se-Indonesia yang baru lulus. Mungkin masih segar dalam ingatan kita panas-dinginnya sidang skripsi tempo hari, atau kepeningan kita saat baru berniat menulis bab 1 skripsi, mungkin juga masih ada yang nostalgia dengan suka-dukanya pergi penelitian ke lapangan. Bagi yang sudah lulus, tentu pernah meng-galau-kan masa-masa indah saat ber-skripsweet ria tersebut. Namun, wahai para freshgraduate, sesungguhnya tidak sampai di situ saja, ada kegalauan lain yang sedang menantimu di depan sana. Galau yang lahir dari pertanyaan;

 

“Sarjana antropologi mau kerja di mana?”

 

Fellas, jika ingin membangun masa depan yang lebih baik bersama antropologi, patut juga pertanyaan-pertanyaan berikut ini kita cari jawabannya dari sekarang. Misalnya, persiapan-persiapan seperti apakah yang sudah dilakukan untuk memasuki dunia kerja yang sangat kompetitif? Apakah ilmu antropologimu relevan dengan isu-isu kekinian? Apakah sudah memulai berkolaborasi dengan ilmu lain? Sudahkah mulai memanfaatkan ilmu antropologi untuk menjawab berbagai persoalan hidupmu, mulai dari persoalan keseharian hingga tantangan di ranah pekerjaan?

 

Menerapkan antropologi, mengobati galau hati

 

Mensinergikan pengetahuan teoritis dan pengalaman praktis. Via www.himantaraub.blogspot.co.id

 

Jauh sebelum kita, pada masa antropologi di Indonesia masih muda belia, dalam satu bab buku berjudul Antropologi dan Pembangunan Indonesia (2005), Prof. Amri Marzali pernah bercerita. Jaman masih mahasiswa, Pak Amri diberi pertanyaan oleh pak dekannya tentang tujuan beliau belajar antropologi, lalu setelah lulus mau jadi apa.

 

Jujur saja, saya merasa tergelitik. Ternyata sejak pak Amri kuliah sampai hari ini, di jaman instagram dan wifi, masih eksis pertanyaan-galau tentang antropologi dan masa depannya.

 

Pada masa itu, pak Amri yang masih mahasiswa, selain menjawab sekenanya, ternyata juga memiliki pemikiran yang jauh lebih terbuka. Beliau menjawab;

 

“Tetapi ada sesuatu yang lain, yang bahkan mungkin paling penting dalam mendorong hasrat seseorang. Sesuatu itu adalah tentang hal yang dapat diberikan oleh disiplin ilmu tersebut untuk kehidupan pribadi seseorang setelah selesai kuliah”.

 

Refleksi dari pemikirannya jaman mahasiswa itu kemudian dikembangkan pak Amri dalam bukunya, berupa penawaran kepada generasi muda—mahasiswa dan para pembelajar antropologi-untuk kembali memikirkan kegunaan ilmu kita dalam pembangunan bangsa, lewat suatu koridor yang disebutnya ranah “antropologi terapan.” Antropologi terapan adalah antropologi yang dibawa ke ranah praktis, menjawab persoalan yang kita alami, mulai dari persoalan sehari-hari, hingga ranah rumit seperti mengatasi problema negeri.

 

Siapkan diri bersama antropologi

 

Kreativitas dalam pengembangan diri. Via www.himantaraub.blogspot.co.id

 

Tahun 2016, yang katanya, sudah memasuki tahun Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), untuk menjadi seorang freshgraduate kita harus berpikir bagaimana kita “laku dan dapat bersaing” di pasar tenaga kerja yang luasnya se-Asia Tenggara. Halo, sebenarnya kita orang apa barang ya?

 

Menurut sebagian pihak, pemberlakuan MEA itu akan mempersempit peluang kerja. Menurut saya, alih-alih meningkatkan persaingan, sebenarnya MEA itu memperluas pasar kerja bagi lulusan antropologi, karena peneliti adalah salah satu profesi yang akan diberi kebebasan melintasi negara-negara Asean.

 

Namun, bisakah kita merespon peluang itu dengan tepat? Atau malah pasrah tergulung oleh gelombang antropolog dari Filipina, dari Malaysia? Sebab adanya pesimisme akut terhadap ilmu kita sendiri. Untuk itu, dalam konteks ini, akan lebih mudah bagi kita merespon “pasar” dengan mengubah pandangan, khususnya tentang jurusan antropologi.

 

Mungkin, kita harus berkaca, merenung lagi. Saya rasa, sebagian besar dari kita, waktu menjadi mahasiswa antropologi, mungkin diterima di jurusan ini karena pilihan kesekian atau karena salah klik sewaktu memilih jurusan di SNMPTN. Hal itu yang kemudian menjadi kegalauan, mengibaratkan pilihan itu berarti kutukan bagi kita. Karena apa? ya karena pertanyaan-pertanyaan setajam silet tentang “lulusan antropologi nanti kerjanya jadi apa?” Ini adalah problem, dan perlu kita atasi.

 

Seperti juga kata pak Anies Baswedan, “anak muda harus membangun pemikiran kritis-optimis, bukannya kritis-pesimis.” Sebab itu, kalo dulu pepatah hanya berkata, “nasi sudah menjadi bubur,” sekarang perlu kita buat lanjutannya, yaitu ”ya sudah, buburnya tinggal diberi suwiran ayam, diberi cakue, diberi kecap dan santan, jangan lupa krupuk” biar bisa dimakan dan rasanya jadi enak banget.

 

Jadi, kita coba cari si suwiran ayam, si kecap, cakue dsb. Ini berarti kita perlu menyiapkan berbagai plan untuk membuat pendidikan kita di antropologi bisa menjadi potensi yang bernilai tinggi di masa depan, caranya adalah dengan menambah berbagai keterampilan yang lain.

 

Aksi nyatanya sendiri adalah: kita “menyiapkan diri”, mencoba menjadi mahasiswa antropologi yang menyukai berbagai bidang ilmu pengetahuan dan keterampilan yang lain juga. Mudahnya, ada hal lain yang kita suka. Misal suka kegiatan sosial, suka seni, suka bisnis, suka belajar pun juga tidak apa-apa, hal apapun pokoknya, cari sampai ketemu apa yang kamu suka! Kemudian jangan lupa, untuk kemampuan menulis, membaca, organisasi dan public speaking, sudah tidak bisa ditawar lagi bagi anak muda—semua mahasiswa sekarang harus punya.

 

Passionku, menjurnalistikkan antropologi, mengantropologikan jurnalistik!

 

Belajar jurnalisme sastrawi dari sang ahli.

 

 

Perlu kita ingat lagi pernyataan pak Amri tentang hasrat kita dari ilmu yang dimiliki. Kalau berbicara tentang hasrat, ia adalah passion yang sangat digaung-gaungkan anak muda masa kini. Hal wajar kalau sekarang kita sering mendengar: “bekerja yang sesuai passion dong!” atau “karena passion aku tuh disini” dsb. Dari sini, mari kita cari apa passion kita dari antropologi.

 

Di antara teman-teman pasti memiliki ketertarikan pribadi terhadap bidang lain yang dapat dikembangkan. Saya pribadi menyukai bidang kepenulisan. Sejak SMA dan perguruan tinggi saya mengikuti pelatihan terkait dengan jurnalistik dan tulis menulis. Ketertarikan dan kecintaan pada dunia tulis menulis ini memberikan keuntungan pada saya.

 

Berkecimpung di bidang tulis menulis memberi kemudahan bagi saya ketika memperoleh tugas-tugas di perkuliahan yang sering menuntut membuat karya tulis. Selain itu, aktivitas mengolah kata itu juga sangat membantu saya saat berkarya di kegiatan jurnalistik tingkat fakultas dalam mengelola produk-produk seperti buletin dan majalah. Terlibat dalam kegiatan jurnalistik kampus tentu saja memberi pengalaman soft skill berharga, di samping kegiatan tersebut juga menjadi poin yang telah menghias CV saya.

 

Dari pengalaman tersebut saya belajar, baik pengetahuan dan keterampilan jurnalistik maupun antropologi, keduanya saling bertukar dan mengisi wawasan saya. Di dunia jurnalistik dikenal tulisan fakta dan opini, sedangkan di dunia antropologi kita mengenal sisi etik dan emik. Dalam tulisan jurnalistik ada salah satu jenis tulisan yang dikenal sebagai tulisan feature.

 

Tulisan feature berisi tentang hal-hal yang mengandung human interest, yakni hal yang unik dan menceritakan tentang kisah kehidupan tentang manusia. Nah, sebenarnya dalam antropologi, kita tanpa sadar seringkali menulis kisah-kisah kehidupan yang mengedepankan sisi unik dan sisi manusianya.

 

Sebab itu, saya rasa ketika mahasiswa antropologi menyukai jurnalistik, bisa jadi etnografi yang ditulisnya dapat lebih bernilai dan bermakna. Hal ini terutama dalam cara penyampaiannya yang diharapkan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Bisa jadi, tulisan perkawinan antara antropologi dan jurnalistik terasa lebih renyah, enak dibaca dan tetap dibedah secara tajam dengan perspektif keilmuan antropologi.

 

Tentang gagasan eksperimental ini, adakah di antara teman-teman pembaca yang berpikir sama dengan saya? Jika iya, sepertinya kita perlu melahirkan sebuah karya monumental!

 

Mengabdi untuk negeri

 

Saatnya berkarya untuk negeri. Via www.himantaraub.blogspot.co.id

 

Apa yang saya tuliskan ini sekedar mencoba menawarkan satu pandangan, dari perspektif freshgraduate sarjana antropologi. Di sini saya tidak bermaksud membuat semakin “gaduh” situasi. Saya hanya memberikan “suara”, bukan noise, tapi voice, meyakinkan pembaca dan menjadi “early warning system,” bagi kita bersama.

 

Saya percaya setiap lulusan antropologi terlahir unik dan berpotensi untuk mengembangkan ketertarikan akan bidang lain dan menyelaraskannya dengan keilmuan antropologi. Semakin kita, sarjana antropologi, senantiasa berpikir positif dan imajinatif terkait ranah terapan dan peran antropologi, kita berhak dan berpeluang untuk “menciptakan pasar” bagi ilmu tersebut. Menciptakan pasar dalam arti positif yakni mengembangkan dan menerapkan keilmuan antropologi bagi Indonesia tercinta.

 

Alih-alih galau dengan pertanyaan“mau jadi apa setelah lulus sarjana antropologi,” mari kita mencari tahu“apa yang sedang dibutuhkan Indonesia? Lalu mari menetapkan sikap, bahwa “kami Sarjana Antropologi siap berbagi dan mengabdi untuk negeri.” So dont be galau! Cari passionmu, dan jodohkan dengan ke-antropologianmu!

Hanifati Radhia

Freshgraduate dari Antropologi UB. Perempuan dengan sedikit imajinasi, banyak menulis. Tertarik dengan kajian antropologi seni, gender, perkotaan, dan pembangunan.

  • Fikarwin Zuska

    Tulisan yg bagus, positif, dan sangat inspiratif karena sangat menekankan segi kreatifitas. Kreativitas memang merupakan inti dari segala kegiatan. Tanpa kreativitas dan daya cipta yang baik, mustahil akan muncul kegiatan dengan output yang baik pula.
    Pembelajar antropologi yg kreatif niscaya akan melihat bahwa ada sangat banyak ‘strategi kehidupan’ (kebudayaan) manusia yg boleh ditiru dan dikembangkan. “Strategi kehidupan” yang hebat dan dapat dikembangkan tersebut, itu dapat ditiru dan dijadikan jalan hidup bagi pembelajar antropologi. Cara berpikir sepwrti inilah yg mestinya dipupuk dan dipelihara untuk mwnghadapi masa depan yg lebih kompetitif.

    • Hanifati Radhia

      Terima kasih Pak Fikarwin, yg setia berkunjung dan membaca tulisan-tulisan kami. Setuju dengan pendapat bapak, kreativitas adalah inti dari kegiatan. Terlebih kreativitas juga sumberdaya yang diharapkan senantiasa terbarukan. Semoga kreativitas bisa dijadikan salah satu “strategi kehidupan” oleh para mahasiswa maupun pembelajar antropologi. Semoga melalui media Antronesia yg sedang bertumbuh ini adalah salah satu jalan menuju kesana…

  • Mesti Arnanda Nasution

    Tulisan yg sangat memotivasi serta membuka mata utk lebih optimistik. Pengalaman sy mungkin dapat menguatkan pandangan2 yg dipaparkan penulis.
    Kebetulan sy memiliki background sarjana antropologi dan pernah bekerja sbg wartawan di sebuah koran harian terbitan ibukota selama 10 thn lebih.
    Selain yg disampaikan penulis, ttg fakta dan opini, kemudian tulisan feature, msh byk istilah lain dlm jurnalistik yg sebenarnya adalah “makanan” sarjana antropologi. Khususnya dlm teknik pencarian data dan penulisan sebuah berita.
    Untuk teknik pencarian data dikenal istilah 5W 1H, wawancara, investigasi, indeep interview, menyaru/menyamar. Bukankah teknik2 ini sdh lumrah krn memang metode yg digunakan untuk mengumpulkan data2 antropologis (kualitatif).
    Untuk penulisan sebuah berita, yg membedakan cuma cara penyampaian tulisannya, di mana utk jurnalistik membuat sebuah berita itu harus mengikuti pola kerucut telungkup ( straight news ), serta tulisan yg berbentuk feature yg lebih mengedepankan deskripsi objek berita. Bahwa utk memasuki dunia jurnalistik, seorang sarjana antroplogi seharus tidak perlu kaget lg karena sdh terbiasa membuat laporan kuliah lapangan berdasarkan analisis data kualitatif yg diperolehnya.
    Oleh sebab itu, sdh seharusnya berita2 yg dihasilkan jebolan antropologi jg lebih menarik/informatif krn dasar teknik pencarian datanya sdh mumpuni dibanding jebolan jurusan jurnalistik sekalipun.
    Trims

    • Terima kasih bapak untuk tambahannya, semoga makin banyak lulusan antropologi yang bisa mengaplikasikan ilmunya di bidang jurnalistik ini.