Lima alasan mengapa Antropologi “wajib terlibat” dalam pemerintahan dan program pembangunan

1-la

Pertama: Sudut pandang yang holistik terhadap sebuah permasalahan, seringkali membantu antropolog untuk dapat bekerja dengan tim yang multidisipliner. Selama menempuh pendidikan, seorang calon sarjana antropolog dilatih untuk melihat sebuah fenomena dari berbagai sisi, sebut saja jika seorang antropolog melihat fenomena “kemiskinan” maka ia akan melihat hal tersebut dari sudut pandang kultur, ekonomi, keyakinan, politik, hukum dan sebagainya, dalam tinjauan antropologis tentunya. Hal tersebut  membantu seorang antropolog untuk dapat memahami rekan timnya dan mensinergiskannya menjadi sebuah program maupun kebijakan publik. Kombinasi antara hubungan yang baik antara masyarakat penerima dengan tim pelaksana program adalah salah satu kunci penting dalam keberhasilan program.

Kedua: Metode antropologi yang spesifik pada lokasi/masyarakat tertentu adalah tools yang efektif untuk melihat permasalahan sekaligus potensi yang ada pada masyarakat tersebut. pendekatan ini bukan hanya sekedar angka atau grafik, tapi merupakan hasil eksplorasi tentang kebiasaan-kebiasaan tertentu dalam masyarakat bersangkutan, gagasan atau keyakinan sebagai bagian dari pengalaman manusia, dari poin-poin tersebut dapat diidentifikasi mana yang menjadi potensi dan mana yang akan menjadi hambatan, sehingga dapat menjadi rujukan bagi pelaksana pembangunan untuk menciptakan program yang lebih sesuai dengan karakteristik masyarakat setempat.

Ketiga: Pendekatan antropologi yang umumnya kualitatif Dengan pendekatan model induktif, participatory field research mengharuskan seorang antroplog berfokus pada penelitian bersifat grounded research. Peneliti langsung terjun ke dalam dinamika riil lapangan. Sehingga pelaksana pembangunan tahu betul apa yang sesungguhnya menjadi permasalahan di masyarakat tersebut, sehingga pembangunan dapat dilakukan secara Bottom-up, melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

Keempat:  Pemahaman serta penghormatan yang tinggi antropolog terhadap budaya masyarakat setempat adalah sebuah nilai plus. Seringkali program pembangunan saat ini dilakukan berdasarkan apa yang para pelaksana pembangunan anggap “baik dan benar”, tapi tidak memperhatikan alam pandang masyarakat yang dibangunnya. Kepekaan seorang antropolog dalam perkara ini bisa menjadi sebuah kontrol yang efektif dalam program pembangunan agar masyarakat yang terkena program dapat mengembangkan diri mereka tanpa harus menjadi “orang lain”.

Kelima:  Seiring menigkatnya perhatian serta program-program pembangunan pada masyarakat peripheral baik oleh pemerintah maupun korporat, kajian-kajian antropologi terhadap kelompok masyarakat ini kini menjadi sebuah rujukan yang wajib. Kajian-kajian antropologi dapat menjadi jembatan penghubung antara para pemangku kepentingan (penerima – perencana – Pelaksana pembangunan), sehingga baik secara langsung maupun tidak, dapat menjadi guidance dalam setiap pelaksanaan pembangunan.

Nopi Fajar Prasetyo

Alumnus antropologi Unpad, 3 tahun pengalaman di bidang consumer research dan kini aktif sebagai strategy planner di multinational FMCG.

More Posts

Follow Me:
Facebook