Jalur Kayu Manis, Perjalanan dari Nusantara

BK00X4-Jalur Kayu Manis-

Laut dan samudra, selain menyediakan sumber daya berlimpah, adalah penghubung antara benua dan pulau-pulau di muka bumi. Menjadi ruang untuk beribu pelayaran yang menyebar segala melalui perjalanannya.

“Nenek moyangku orang pelaut, gemar mangarung luas samudra. Menerjang ombak tiada takut. Menempuh badai, sudah biasa.”

Syair lagu di atas cukup akrab di telinga anak-anak Indonesia pra-milenia. Lagu itu menceritakan masa lalu bangsa kita, tentang kegagah-beranian nenek moyang mengarungi samudra. Jika ditinjau lagi, tak heran lagu anak-anak dengan syair yang demikian tercipta. Indonesia adalah negara kepulauan, belasan ribu pulau mengisi wilayah perairan laut, bukan laut yang mengantarai pulau-pulau. Sebab, luas wilayah laut Indonesia hampir dua kali wilayah daratannya. Pergerakan penduduk tak pelak harus menyeberangi laut, sebab itu aktivitas pelayaran sudah menjadi hal yang lumrah. Namun, sejauh apa mereka mengarungi luas samudra? Kapan mereka mula-mula melakukannya? Untuk apa?

Pada abad ke 1 SM, Pliny the Elder, seorang sejarawan Romawi, pernah menulis tentang pelaut yang datang ke Afrika dari lautan Timur demi memenuhi selera lidah. Mereka menggunakan rakit atau perahu sederhana dengan dua cadik yang bermuatan kayu manis dan bumbu-bumbu lain. Selain dari Pliny, catatan arkeologis mesir kuno pun turut merekam bukti sejarah tentang para pelaut dari lautan timur. Catatan itu bisa ditemukan di galeri Mesir, tembok kuil Deir el-Bahri, Royal Ontario Museum, Amerika Serikat. Di galeri itu ada lukisan yang menggambarkan ekspedisi kapal besar yang diprakarsai Ratu Hatshepsut, pemegang kekuasaan Mesir dari 1503 hingga 1482 SM. Di bawah lukisannya tertera huruf hieroglif yang menjelaskan kapal itu membawa berbagai jenis tanaman dan bahan wewangian untuk pemujaan, antara lain kayu manis. Para pelaut itu berasal dari Timur dan mengarungi lautan untuk berdagang rempah-rempah ke Mesir dengan perahu tradisional. Namun, siapakah pelaut dari Timur ini? Mungkinkah mereka berasal dari nusantara?

Ekspedisi Kapal Borubudur, Samudra Raksa sang Pembela

Pernahkah kalian tahu, sekitar 12 tahun yang lalu, ketika Ibu Megawati Soekarno Putri menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, ada sekelompok anak muda yang mencoba membuktikan pelayaran nenek moyang kita mengarungi luas samudra hingga ke Afrika. Ekspedisi tersebut menelusuri kembali jalur Kayu Manis: jalur yang biasa dilalui pelaut Nusantara. Ekspedisi itu menggunakan kapal kayu yang terinspirasi dari ukiran relief pada candi Borobudur. Relief itulah yang diyakini sebagai salah satu bukti bahwa nenek moyang kita adalah “orang pelaut”.

Ekspedisi ini dicetuskan oleh Philip Beale. Ia adalah mantan angkatan laut dari Inggris. Pada tahun 1982 ia mengunjungi candi Borobudur untuk mempelajari kapal tradisional Indonesia. Ia terpesona kisah di relief Borobudur tentang ketangguhan kapal nenek moyang bangsa Indonesia dalam menempuh perjalanan melintasi samudra. Cerita tentang kapal itu juga pernah ditulis James Innes Miller (1969) dalam The Spice Trade of the Roman Empire. Miller menggambarkan pada abad ke 8, kapal-kapal di laut Jawa serupa dengan yang digambarkan di relief Borubudur. Beale sendiri menghabiskan waktu 20 tahun lamanya melakukan riset tentang kapal Borubudur tersebut. Hingga akhirnya Beale mulai membangun sebuah kapal berdasarkan gambaran tersebut, bersama para ahli kapal tradisional di Pulau Bawean.

Desain Kapal Borubudur
Desain Kapal Borubudur . Sumber: www.hurahura.wordpress.com

Samudra Raksa berbahan utama kayu dan dibangun berdasar gambar-gambar kapal pada relief Candi Borobudur. Kapal tersebut memiliki panjang sekitar 18,29 meter, lebar 4,5 meter dan tiang utama setinggi 18 meter, serta cukup untuk menampung 16 orang awak. Kapal itu dibuat semirip mungkin dengan kapal-kapal nusantara abad ke-8 M. Kapal ini memiliki cadik di kedua sisinya, sehingga tetap stabil dalam menghadapi hantaman gelombang. Menggunakan layar, kapal itu sama sekali tidak memakai dayung untuk bergerak, hanya mengandalkan kecakapan awak kapal memanfaatkan angin.  Sedikit ditambahkan, kapal itu juga dilengkapi berbagai peralatan navigasi canggih. Contohnya, sistem pelacak posisi kapal atau global positioning satellite dan sonar untuk mendeteksi kedalaman laut. Semua itu digunakan untuk menjamin keselamatan ekspedisi tersebut.

kapal borobudur
Kapal Borudur saat mengarungi samudra. Sumber : triphemat.com

Presiden Megawati Sukarnoputri melepas ekspedisi Kapal Borobudur di Pantai Marina Ancol, Jakarta Utara, 15 Agustus 2003. Kapal itu diberi nama Samudra Raksa, yang artinya adalah pembela samudra-yakni kapal yang menjaga Perairan Nusantara. Ekspedisi kapal tersebut menempuh jarak 11 ribu mil dalam waktu 6 bulan. Hingga akhirnya pada tanggal 23 Februari 2004, Kapal Borobudur berlabuh di pelabuhan Tema di Accra, Ghana. Pelayaran itu kemudian menginspirasi Yusi Avianto Paraeanom. Ia membuat komik dokumenter pelayaran itu dengan bantuan gambar dari M. Dwi Bondan Winarno dan Dhian Prasetya.

Misteri Pelaut dari Timur

Keberanian kelompok pelaut yang menginspirasi ekspedisi kapal Samudra Raksa itu bukan tanpa perdebatan sejarah. Tentunya orang-orang tidak bisa yakin begitu saja, tentang kapal dari dari Timur adalah kapal dari nusantara. Apakah benar bahwa para pelaut yang berlayar dari Timur itu berasal dari nusantara? Kunci untuk menjawab kesangsian itu adalah dengan mempelajari bentuk kapal dan barang bawaan para pelaut tersebut. Ya, Kayu Manis. Asal-usul kayu manis akan membawa kita pada asal-usul para pelaut itu.

Nyatanya Kayu Manis memang tumbuh di beberapa tempat di Mediterania, dan tentu saja daerah itu bukan Timur dari Afrika. Menurut catatan sejarah, salah satu perdagangan rempah yang paling tersohor kala itu adalah kayu manis (Cinnamomum verum). Kayu manis menjadi primadona lantaran aromanya yang kuat, manis dan pedas. Kayu manis juga merupakan salah satu bumbu makanan tertua yang digunakan manusia. Kayu manis sudah digunakan di Mesir Kuno sekitar 5000 tahun lalu, dan disebutkan beberapa kali di dalam kitab Perjanjian Lama. Terdapat tiga jenis utama kayu manis di Mediterania: daun kayu manis atau malabathrum, kulit kayu manis yang disebut cassia, dan kulit kayu yang lebih lembut dan kuncup bunga yang bagi bangsa Romawi merupakan cinnamon yang sesungguhnya.

Kayu manis sebagai Komoditas penting di masa lalu. Sumber : nbcnews.com

Tapi apakah kayu manis adalah tumbuhan asli Mediterania? Herodotus (484-424 sebelum Masehi), menyebut orang Arab memelintir asal-usul kayu manis sebagai komoditas yang tumbuh di antara batu cadas berkapur di Etiopia dan rawa-rawa di Sudan. Tujuannya adalah untuk mengelabui orang-orang yang mencari sumber kayu manis. Hal itu menunjukkan betapa berharganya kayu manis di kala itu. Memang, kayu manis menjadi unsur penting dalam upacara kerajaan di Mesir. Dalam teks Exilic Hebrew yang ditulis pada abad ke-7 sebelum Masehi dan teks Theophrastus (372-288 sebelum Masehi), kayu manis dijuluki sebagai “Bapak Tanaman” karena menjadi bahan utama pewangi atau campuran wewangian.

Kembali pada catatan Pliny (23/24-79 SM), meski dia sendiri menyebutkan daerah itu adalah “Etiopia”, namun, dia juga mengatakan bahwa orang Etiopia pun membeli dari tempat lain. Lagi pula tak satu pun dari cassia, kayu manis murni, atau tanaman-tanaman lain yang serupa, pernah tumbuh di Arab, Etiopia, Somalia, atau India. Kayu berkulit manis itu hanya dapat di temukan tumbuh secara liar di Asia Tenggara dan beberapa pulau di Indonesia. James Innes Miller menulis, kayu manis mula-mula tumbuh di Asia Tenggara, di timur Himalaya, dan utara Vietnam. Dari tempat-tempat tersebut, orang Cina Selatan menanam dan mengembangkan tanaman yang disebutnya gui itu di negerinya. Dari Cina Selatan, gui menyebar ke Jawa dan seluruh Indonesia dan mendapatkan tempat tumbuh yang subur, terutama di Maluku.

Selain itu, tercatat bahwa Pliny mengenal orang Arab dengan sangat baik. Ia akan menyebut pelaut-pelaut tersebut dari Arab jika benar mereka orang-orang Arab. Ia tahu bahwa rakit pembawa kayu manis ini bukan dirakit pada sistem teknologi dengan pengetahuan masyarakat Arab. Dari tulisannya diketahui bahwa bentuk perahu-perahu itu datar seperti rakit. Rakit tersebut sejenis kano multi-bagian yang memiliki platform seperti kano yang digunakan untuk menjelajah Samudra Pasifik.

Gambaran rakit itu mengingatkan kita pada gambaran kapal di Borobudur. Memang, perahu dengan jenis seperti itu sangat sederhana untuk melakukan pelayaran jarak jauh. Dibanding dengan perahu-perahu di Laut merah, sungguh berbeda sekali, bahkan perahu itu tidak punya dayung dan hanya  mengandalkan layar serta cadik. Sebab itu, Pliny yang tergugah oleh keberanian para pelaut itu menuliskan bahwa perahu tersebut digerakkan oleh “semangat dan keberanian” para pelautnya.

Jalur Kayu Manis dan Diaspora Penduduk Nusantara di Madagaskar

Dari penelusuran tentang bentuk-bentuk kapal dan barang bawaannya berupa kayu manis itu, berbagai kesimpulan akhirnya menunjuk bahwa pelaut dari timur itu kemungkinan besar adalah pelaut nusantara. Mereka menyeberangi lautan dengan bantuan angin yang berhembus langsung dari Sumatera bagian utara menuju Horn of Africa melalui kepulauan Maladewa. Merekalah yang memulai jalur pelayaran untuk perdagangan kayu manis ke Afrika, sehingga jalur tersebut terkenal dengan Jalur Kayu Manis (The Cinnamon Route). Konsekuensi dari ini adalah terjadinya diaspora penduduk nusantara di sepanjang jalur kayu manis tersebut. Untuk hal satu ini, telah tersedia bukti-bukti kuat berkat penelitian-penelitian yang mengkaji kekerabatan penduduk Indonesia dan penduduk Madagaskar.

Peta Jalur Kayu Manis di masa lalu. Sumber : spicydc.com

Berdasarkan studi-studi terbaru, diyakini bahwa penduduk nusantara berdiaspora hingga ke Madagaskar. Beragam penemuan terkait diaspora ini antara lain meliputi; bukti arkeologis, dengan ditemukannya fosil-fosil perahu bercadik dua seperti di relief Borobudur, rumah penduduk yang berbentuk kotak dengan atap segitiga, seperti yang umum ditemukan di nusantara, serta metode dan teknologi pertanian yang tidak jauh berbeda dengan sistem di nusantara. Kemudian dari segi kebudayaan, bahasa dan kuliner Malagasy masih termasuk dalam ciri-ciri masyarakat di austronesia. Kemudian bukti yang paling kuat adalah ciri fisik dan kemiripan genetika. Penelitian gabungan yang dilakukan Massey University Selandia Baru, University of Arizona Tucson Amerika Serikat, Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) Prancis, serta Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Indonesia menunjukkan hasil yang mendukung hal itu. Penelitian yang dimuat dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B, 21 Maret 2015 itu menegaskan bahwa penduduk nusantara Indonesia adalah nenek moyang etnis Malagasy di Madagaskar.

Penutup

Bukti-bukti dari jalur kayu manis ini cukup menguatkan klaim dari nyanyian “nenek moyangku seorang pelaut.” Lebih jauh, mereka tidak hanya sekadar berdagang ke negeri-negeri asing, tapi berdiaspora, mengkoloni wilayah-wilayah baru dan membangun peradaban di sana, seperti di Madagaskar. Namun sayang, sejarah tentang mereka belumlah “terpampang nyata.” Masih banyak kabut-kabut mitos akibat minimnya sumber-sumber ilmiah yang dapat menjelaskan seperti apa nenek moyang kita dulu, tentang keberanian mereka mengarungi samudra, tentang teknologi dan peradaban yang sudah mereka bangun, dan masih banyak lainnya. Mempelajari masa lalu bukanlah sekadar romantisme, tapi untuk menggali hikmah yang diwariskan para leluhur untuk dapat digunakan dalam membangun kebaikan di masa kini. Untuk membangun kecintaan dan semangat untuk membangun nusantara tercinta, Indonesia.

***

Dick-Read, Robert.(2008). Penjelajah Bahari: Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika. Diterjemahkan oleh: Edrijani Azwaldi. Bandung: Mizan.
https://id.wikipedia.org/wiki/Kapal_Borobudur
http://maritimenews.id/
http://pribuminews.com/25/01/2015/nenek-moyang-kita-memang-pelaut-tangguh-dan-berani-berlayar-tanpa-dayung/
 Miller, James Innes. (1969). The Spice Trade of the Roman Empire. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-814264-5.
Pareanom, Yusi Avianto.(2007). Ekspedisi Kapal Borobudur: Jalur Kayu Manis. Jakarta: Banana.

Tiaradewi

Lulusan Antropologi Unpad. Bekerja di sebuah perusahaan swasta sambil mengasuh toko buku online kecil-kecilan. Tertarik akan isu-isu tentang akses terhadap kesehatan dan kajian tentang humor.

More Posts - Website

Follow Me:
Facebook