Ingin Pengalaman Berbeda? Berwisata Ala Antropolog Yuk!

Liburan Yuk. Via republika.co.id

Jadi pekerjaan di kantor sudah selesai? Laporan sudah dikirim ke klien? Seabreg tugas kampus dan UAS sudah berakhir? Jika iya, itu berarti pertanda sekarang waktunya untuk sedikit merayakan kehidupan dengan pergi berwisata! Perjalanan mengunjungi tempat yang baru-entah sendiri, dengan keluarga, pacar, selingkuhan, tetangga ataupun gebetan-dipercaya dapat memberikan efek positif bagi kejiwaan seseorang. Tak heran masyarakat kelas menengah umumnya menginvestasikan materi, waktu dan tenaga untuk aktivitas ini.

Tapi kalau berwisata hanya sekedar datang berkunjung, menikmati pemandanganya, menyantap kulinernya, kemudian mengambil foto selfie, sepertinya lama-kelamaan membosankan juga bukan? Bagaimana kalau kita mencoba wisata ala antropolog?

Apa pula itu wisata ala antropolog? Bagi yang sudah bergelut di dunia antropologi, pastinya sudah khatam betul dengan istilah etnografi, partisipatori observasi, serta perspektif emik-etik bukan? Bagi yang masih awam, tidak perlu risau jika tak mengerti secara spesifik istilah istilah tersebut, tetapi intisari dari peristilahan tersebut bisa kita terapkan dalam perjalanan wisata kita.

Oke, jadi sekarang apa aja sih yang harus dilakukan agar bisa sedikit merasakan pengalaman sebagai seorang antropolog?

Penuhi kepalamu dengan rasa ingin tahu yang besar

Rasa ingin tahu akan menuntun langkahmu. nstylevacations.ca

Kalau kebanyakan orang memikirkan ingin belanja apa, ingin foto di mana, ingin makan apa, tidak apa-apa sih.. Tapi khusus untuk kamu, bagaimana jika ditambah satu keinginanan lagi, yaitu ingin mendapatkan pengetahuan yang baru tentang lokasi ataupun masyarakat tempat kamu berkunjung, tentang cara mereka hidup, tentang cara mereka bersosialisasi, keseniannya, dan segala macam hal menarik lainnya. Kenapa sih perlu ribet-ribet penasaran ngurusin cara orang lain hidup? Hei bukankah kalau ingin memahami orang lain kita harus mengenalnya lebih dulu?

Pelajari sedikit tentang kebiasaan dari masyarakat tempat yang akan kamu kunjungi

Mengalami aktivitas penduduk lokal, pengalaman seumur hidup. 123rf.com

Untuk apa mempelajari ini? Jelas ini untuk membantu kamu berinteraksi dengan masyarakat tempat wisata yang akan kamu kunjungi, yang bisa saja dia adalah pemandu tur kamu, atau ibu-ibu penjual makanan, atau bapak-bapak penjual air mineral, atau mbak-mbak recepsionis hotel. Tahukah kamu kalau antropolog sedari dulu terkenal dengan kemampuannya diterima dengan mudah oleh masyarakat tempat penelitiannya? Hal itu biasa terjadi karena antropolog selalu meluangkan waktu di awal-awal kunjunganya untuk mengenali kebiasan-kebiasan yang membuat penduduk-penduduk lokal mau menerima kehadiran orang asing di wilayahnya. Salah seorang kontributor di Antronesia bahkan memiliki ayah dan ibu angkat di lokasi Pandai Sikek di Sumatera Barat. Bahkan, Wyn Sargent, Antropolog berkebangsaan Inggris, hingga menikah dengan kepala suku Analaga di Papua. Tidak menutup kemungkinan juga bukan siapa tahu kamu bertemu jodohmu?

Luangkan waktu untuk berinteraksi lebih intim dengan masyarakat lokal

Bangun hubungan yang manusiawi. phinemo.com

Saya punya cara sendiri untuk menyiasati sempitnya waktu agar tetap dapat berinteraksi dengan penduduk lokal, yaitu setiap kali kunjungan wisata selalu menyempatkan bangun lebih pagi dan keluar dari hotel dengan berjalan kaki untuk mencari sarapan sederhana di lokasi yang juga banyak penduduk berkumpul. Atau saat malam hari sebelum tidur, menyempatkan mencari makanan atau minuman untuk menghangatkan tubuh, pun di tempat dimana banyak orang berkumpul. Tidak sekedar duduk dan menyantap hidangan, mendengarkan apa yang orang lain bicarakan dan tidak jarang ikut bergabung dalam pembicaraan akan memberikan kamu sedikit insight tentang apa yang sedang orang lain fikirkan atau rasakan tentang lingkungannya. Kamu akan lebih peka dan mengerti tentang apa yang sedang terjadi dengan setting sosial tempatmu berada saat ini.

Less selfie, more people!

Ceritakan tentang mereka, jangan melulu tentang kamu. dailymail.co.uk

Sudah buka sosial media kamu hari ini? pasti sudah penuh dengan foto selfie disertai dengan check in location tempat berlibur teman-teman atau kerabatmu, tidak ada yang salah dengan itu, tapi menjadi seorang antropolog bukanlah tentang “saya” atau “kita” tetapi tentang “mereka” atau dalam peristilahan antropologi sering disebut sebagai “yang liyan.” Coba dalam wisatamu kali ini, selain menangkap momen-momen keceriaan serta kebersamaan, kamu bisa mencoba untuk menangkap momen-momen yang berkaitan dengan kemanusiaan atau sosial di lokasimu berwisata, dan jangan lupa untuk mengunggahnya ke media sosialmu.

Apa yang kamu lakukan, alami dan rasakan segera tulis dan bagikan

Buat travel diary mu! nbbkdofe.bombnet.ru

Salah satu bagian penting dari pekerjaan seorang antropolog adalah fieldnote yang berisi begitu banyak informasi dari masyarakat tempat ia melakukan penelitian. Kamu tentunya tidak perlu hingga melakukan ini, cukup tuliskan saja di diari atau media sosialmu tentang cerita perjalanan dan pengalaman selama wisata. Ceritakan bagaimana kamu berinteraksi dengan masyarakat lokal, itu saja sudah cukup. Untuk apa sih kita melakukan ini? Jawabannya sederhana, agar bukan hanya kamu saja yang mengerti “mereka,” tapi siapapun yang membaca tulisanmu pun belajar untuk mengerti “mereka.”

Refleksikan pengalamanmu sebagai pelajaran berharga untuk masa depan

Respek pada keberagaman, buah tangan dari perjalanan. mashable.com

Akhirnya adalah, tujuan yang ingin dicapai adalah kepuasan pribadi atas perjalanan wisata dan pemahaman yang lebih baik akan manusia, yang akan membantu memperluas cakrawala perspektif kamu tentang perbedaan, tentang keragaman, tentang menjadi manusia. Syarat utama yang harus kamu pegang adalah, jangan pernah menempatkan diri kamu lebih tinggi dari masyarakat lokal. Hargai nilai nilai yang mereka junjung, memiliki uang untuk dihabiskan dan berasal dari kota yang lebih besar bukan berarti kamu bisa “seenaknya”. Dalam beberapa literature antropologi disebutkan, sebuah perjalanan wisata mempunyai konsekuensi untuk pengembangan individu yang berasal dari kepuasan pariwisata yang membentuknya di lingkungan rumah, wisata membentuk karaktermu.

***

Menarik bukan untuk menikmati liburan dengan cara yang berbeda? Gimana, sudah siap menjadi antropolog dalam perjalanan wisatamu?

Nopi Fajar Prasetyo

Alumnus antropologi Unpad, 3 tahun pengalaman di bidang consumer research dan kini aktif sebagai strategy planner di multinational FMCG.

More Posts

Follow Me:
Facebook