Memperingati Hari Kekalahan Perang Terhadap Narkotika

Beberapa waktu yang lalu Antronesia berkesempatan hadir dalam sebuah acara konfrensi pers pertajuk “Memperingati Hari Kekalahan Perang Terhadap Narkotika” di Coffee Institute, Jl. Gunawarman Jakarta Selatan. Kegiatan tersebut diadakan oleh Kelompok Diskusi Indonesia Cerdas Napza (dICerNA). Konferensi pers ini dilakukan di beberapa kota besar di Indonesia seperti Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Menurut kami isu yang dibahas dalam konferensi itu adalah persoalan yang penting untuk dibagikan kepada public, mengingat betapa besarnya kerusakan yang telah disebabkan narkotika terhadap negeri kita ini. Dalam kesempatan ini, kami ingin berbagi informasi dan pengetahuan dari konferensi tersebut, semoga bisa bermanfaat untuk kita semua.

Dalam konferensi pers tersebut, dICerNa, melalui Patri Handoyo menyampaikan pernyataan sikap dalam rangka memperingati Hari Anti Napza international lewat beberapa poin berikut :

  1. Mendesak Pemerintahan RI untuk segera mengelola peredaran narkotika yang selama ini dikuasai sindikat penjahat lintas negara;
  2. Mengajak Masyarakat untuk mendukung pemerintah melawan sindikat peredaran narkotika dengan cara merebut tata kelola narkotika dari pasar gelap;
  3. Mendorong Pemerintah dan DPR RI untuk melepaskan UU Narkotika dari perangkap Konvensi PBB yang hanya menguntungkan perusahaan farmasi multinasional dan sindikat penjahat narkotika.

Pernyataan sikap diatas disampaikan karena keresahan diCerNa mengingat selama 40 tahun perlawanan terhadap Narkotika di gaungkan, selama itu pula negara kita tidak pernah meraih kemenangan. Bahkan hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkapkan penyalahgunaan Narkotika di Indonesia terus meningkat tiap tahunnya. Dalam laporan Penyalahgunaan Narkotika tahun 2014, jumlah penyalahguna narkotika di Indonesia diperkirakan ada sebanyak 3,8 juta sampai 4,1 juta orang dalam setahun terakhir (current users) pada kelompok usia 10-59 tahun. Angka tersebut terus meningkat dengan merujuk hasil penelitian BNN dan Puslitkes UI, dan diperkirakan mencapai 5,8 juta penyalahguna pada tahun 2015.


Pemerintah Harus mengambil Alih Peredaran Narkotika

Pelarangan Narkotika di Indonesia dimulai sejak tahun 1976 berdasarkan rujukan Konvensi PBB tahun 1961, 1971, 1988. Namun hingga saat ini kasus peredaran narkotika tiap tahunnya semakin bertambah. Peredaran narkotika kini dikendalikan oleh sindikat dipasar gelap. Pelarangan Narkotika saat ini justru meningkatkan nilai ekonomi bagi narkotika itu sendiri. Bagi sindikat narkotika hal tersebut menjadi ladang bisnis. Selain itu, “penyerahan” pengendalian narkotika secara tidak langsung kepada pasar gelap berimplikasi pada upaya konglomerasi pengelolaan Narkotika tingkat Internasional. Sebut saja Abbott Laboratories, Glaxo Smith Kline, Johnson & Johnson dan Sanofi Aventis, yang mengelola Narkotika secara legal di Negara-negara seperti Turki, India dan Australia.

Para sindikat kejahatan narkotika dan perusahaan farmasi multinasional yang menikmati laba besar dari pengelolaan narkotika, sedangkan Negara pengusung Konvensi PBB terus menanggung kekalahan. Ganja di Aceh yang pada sebelum tahun 70-an tidak memiliki nilai ekonomi, sekarang setelah dilarang penanaman dan pengolahannya ganja memiliki nilai ekonomo yang besar. Lalu siapa yang menikmatinya ? Apakah para petani di aceh? Tentu saja tidak. Yang menikmati hasilnya adalah para sindikat penjahat narkotika.

Dalam sebuah wawancara antara media DW[1] dan Troels Vester (koordinator lembaga PBB untuk kejahatan narkotika), Vester menyatakan ; “Bisa dikatakan bahwa Indonesia sekarang telah menjadi salah satu jalur utama dalam perdagangan obat bius.” Banyak obat bius diperdagangkan dan diselundupkan oleh sindikat internasional yang terorganisasi di Indonesia, terutama karena ada permintaan cukup tinggi dari populasi muda. Organisasi sindikat obat bius ini sangat rapih dan beroperasi dari beberapa negara. Mereka memanfaatkan pengawasan perbatasan yang lemah, karena banyak kapal yang bisa beroperasi melewati laut tanpa pengawasan.

Dalam beberapa tahun terakhir Indonesia sudah menyita narkotika dan obat bius illegal dalam jumlah besar yang masuk dari luar negeri. Terutama bahan-bahan methamphetamine, yang di Indonesia dikenal dengan sebutan “sabu-sabu”. Methampetamine akhir-akhir ini diproduksi langsung dalam jumlah besar di Indonesia, tapi banyak juga yang didatangkan lewat Cina, Filipina dan Iran. Pintu masuk utama ke Indonesia adalah pelabuhan-pelabuhan di Jakarta, Batam, Surabaya dan Denpasar. Crystalline Methampetamine terutama masuk dari Malaysia dan diselundupkan ke Aceh, Medan dan daerah lain di Sumatra.

Dari kasus yang diceritakan oleh Vester diatas, lagi-lagi sindikat kejahatan Narkotikalah yang memiliki kendali atas peredaran Narkotika. Pada kondisi Ini seharunya Negara turun dan mengganti strategi yang tadinya melarang pengolahan narkotik menjadi pengambil alih pengolahan narkotika tersebut. Lihat saja contoh obat Metadon[2] yang digunakan untuk therapi IDU (Injecting drug User) agar beralih ke narkotika Non suntik untuk menekan angka penularan HIV akibat jarum Suntik. Metadon dijual dengan harga sekitar Rp.5000,- produksi dan pengedaranya dikendalikan oleh pemerintah. Dan tidak ada sindikat yang berani menjual Metadon dengan harga diatas produk yang dikeluarkan oleh pemerintah.

 

Kegunaan Ganja Sebelum Dilarang Di Aceh

UU Narkotika No. 35 tahun 2009 menyatakan bahwa Ganja atau Cannabis (Latin) adalah jenis Narkotika Golongan I yang sampai saat ini masih Ilegal. Pemerintah melalui Wakil Menteri Kesehatan, Ali Ghufron Mukti (Kabinet Indonesia Bersatu), menyatakan bahwa tanaman ganja bukan jenis tanaman obat. Sedangkan yang disebut Golongan I adalah tanaman ganja dan semua tanaman genus-genus Cannabis dan semua bagian dari tanaman termasuk biji, buah, jerami, hasil olahan tanaman ganja atau bagian tanaman ganja termasuk damar ganja dan hasis.

Sebelum larangan tersebut disosialisasikan, masyarakat aceh mengenal sebuah istilah yang disebut Bak Lakoe. Bak lakoe dalam bahasa Aceh merujuk pada makna “ibarat suami.” Istilah ini diberikan kepada sebuah tanaman yang diyakini oleh orang Aceh sebagai suami dari semua tanaman dan memiliki fungsi melindungi tanaman lain, tanaman tersebut adalah tanaman ganja.

Bak lakoe ini ditanam di dekat tanaman pangan seperti Kopi. Bak lakoe memiliki fungsi menahan air sehingga tanah tidak retak dan menjaga kelembaban tanaman. Selain itu bak lakoe digunakan untuk melindungi tanaman lain dari ancaman hama seperti kambing liar, lembu, babi hutan dan sampai binatang kecil lainnya. Seperti halnya lakoe atau suami memiliki peran bertanggung jawab, menjaga, dan melindungi dari berbagai ancaman dari luar.

Khasiat Ganja juga dituliskan dalam naskah melayu kuno berjudul Tajul Muluk. Di dalam kitab tersebut di ceritakan mengenai resep pengobatan manis darah atau kencing manis serta penyakit tua (Degeneratif) Beberapa bahan obat yang disebutkan adalah lada hitam, jinten, gula batu, bunga Kanja (Ganja), Ofifum (Opium), dan sebagainya. Di halaman resep tersebut juga disebutkan takaran serta cara mengolahnya menjadi sebuah “majun” (pil bulat) serta aturan dosis pemakainnya.

Sudah sejak lama masyarakat Aceh menjadikan Ganja sebagai bahan dari obat untuk berbagai penyakit, selain yang disebutkan di atas, ganja juga berguna untuk mengobati asam urat dan pegal-pegal. Bagian yang digunakan untuk pengobatan biasanya adalah bagian akarnya yang direbus. Tak hanya itu ganja pun pernah dimanfaatkan sebagai kertas, bahan tali-temali, untuk mengempukan daging serta dijadikan bumbu dapur.

Setelah pelarangan penanaman ganja, pengolahan tidak lagi dilakukan secara terang-terangan. Warga sudah sulit mendapatkan manfaat dari tanaman tersebut. Saat ini, di Indonesia, yang menerima manfaat dari penanaman ganja secara illegal adalah para sindikat penjahat narkotika.

Sudah saatnya Negara Indonesia mengambil tindakan untuk tidak selalu didikte oleh Konvensi PBB tentang narkotika, melainkan kembali kepada akar budaya bangsa yang telah dicontohkan dalam kitab Tajul Muluk. Yakni mengelola dengan sebaik-baiknya dan dengan bijaksana untuk kebaikan rakyat. Jangan sampai generasi muda mecicipi narkotika dari “jalanan” atau dari sindikat penjahat yang kita tidak pernah tahu kandungan yang terdapat di dalamnya.

Sumber

Asnawi, S. B. (n.d.). Lakoe Kupi: Cerita Rakyat Aceh tentang Ganja sebagai Suami Pohon Kopi. Retrieved June 24, 2016, from Indonesia Cannabis News & Movement: http://www.lgn.or.id/lakoe-kupi-cerita-rakyat-aceh-tentang-ganja-sebagai-suami-pohon-kopi/

Latschan, T., & Pasuhuk, H. (2015, August 31). PBB: Indonesia Salah Satu Jalur Utama Penyelundupan Narkotika. Retrieved june 24, 2016, from DW (Made for Minds): http://www.dw.com/id/pbb-indonesia-salah-satu-jalur-utama-penyelundupan-narkotika/a-18252054

Narayana, D. (n.d.). Khasiat Ganja dalam Kitab Melayu. Retrieved June 26, 2016, from Indonesia Cannabis News & Movement: http://www.lgn.or.id/khasiat-ganja-dalam-kitab-melayu/

Laporan Akhir Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkotika Tahun Anggoran 2014

Pers Release, Pernyataan Sikap dICerNA. 25 Juni 2016. Memperingati hari perang terhadap Narkotika Internasional 26 Juni 2016 (Kedaulatan Bangsa Untuk mengendalikan Narkotika Di Indonesia )

 Wikipedia, https://id.wikipedia.org/wiki/Metadon

[1] http://www.dw.com

[2] Metadon adalah sejenis obat opioid sintetik, digunakan sebagai analgesik dan untuk merawat kecanduan dari pengguna golongan opioid, seperti heroin, morfin dan kodein. Biasanya dikonsumsi sekali sehari. Mampu bertahan 24 jam, pengembangan turunan metadon dapat bertahan hingga 72 jam.

Khemal Andrias

Seorang freelance yang mencintai dunia Antropologi