Dr. Selly Riawanti, SS., MA, “Baca Buku Satu Rak Belum Tentu Paham, Mengalami Sendiri Akan Lebih Mudah Memahami”

[Unpad.ac.id, 25/11/2014] Terlahir di perkotaan, Dr. Selly Riawanti, S.S., M.A, tumbuh menjadi anak kota yang terbiasa melihat berbagai gejala sosial di perkotaan. Mulai dari fenomena kemiskinan, perilaku masyarakat hingga relasi sosial masyarakat perkotaan yang multietnis. Beranjak besar, hal ini lambat laun menjadi ketertarikan tersendiri bagi Dr. Selly untuk mendalami dan mengamati lebih jauh dari sisi antropologinya.

 

Dari pengamatan dan pengalaman sehari-hari dengan lingkungan perkotaan inilah dosen Program Studi Antropologi FISIP Unpad ini kemudian mencurahkan perhatiannya untuk mempelajari antropologi, antara lain antropologi kota.

 

“Pengalaman sehari-hari saya adalah pengalaman perkotaan, itulah yang saya kerjakan. Pengalaman hidup saya melihat banyak hal tentang perkotaan, dan antropologi memfasilitasi saya mempelajari berbagai hal tersebut,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu di kampus FISIP Jatinangor.

 

Melihat gejala perkotaan di kota-kota besar seperti Bandung saat ini, Dr. Selly menjelaskan bahwa pertumbuhan kota saat ini nampaknya tidak terkendali. Hal ini bisa dilihat dari masyarakat pinggiran kota yang terdesak akibat pertumbuhan kota tersebut. Di kota besar, banyak menarik orang datang sehingga penduduk aslinya menjadi terdesak dan terpaksa keluar dari daerahnya.

 

“Akhirnya tingkat kohesi atau keterikatan antar warga itu menjadi rendah. Akibatnya berbagai kegiatan bersama seperti memelihara lingkungan, menjadi lebih susah dilakukan karena mereka lebih sibuk mencari uang agar dapat bertahan hidup di wilayahnya,” ujar Dr. Selly.

 

Fenomena ini banyak ia amati di kampung-kampung perkotaan. Penduduk asli setempat semakin tercerabut dari wilayahnya sehingga sejarah kampung mereka pun mulai terabaikan. Mereka tidak mengenal asal usulnya, leluhurnya.

 

Fenomena seperti ini menunjukkan dampak sosial yang cukup besar dari sebuah pertumbuhan perkotaan. Sayangnya, pemerintah masih kurang memperhatikan aspek sosial budaya tersebut, misalnya dalam hal bagaimana seharusnya pemerintah membina multikulturalitas tersebut. Ia mencontohkan, bila pemerintah Bandung khawatir kebudayaan Sunda hilang, lantas memaksakan semua warganya termasuk orang luar Bandung menggunakan kebudayaan Sunda, menurut Dr. Selly, itu adalah hal yang keliru.

 

“Seharusnya, kita cukup menawarkan bagi siapa saja di Bandung untuk mempelajari dan mempraktikkan unsur-unsur budaya Sunda, misalnya dalam kesenian, yang paling gampang. Sediakan saja peluang dan sarananya, lama kelamaan mereka juga akan tertarik dengan sendirinya,” tutur dosen kelahiran Cimahi, 11 Desember 1956 ini.

 

Sebagai seorang akademisi, ia melihat saat ini masyarakat semakin tidak mengenal kotanya. Ia berasumsi karena penduduknya tidak merasa dilibatkan untuk memikirkan kotanya. Sudah seharusnya pemerintah memberikan lebih banyak tempat dan peluang untuk warga dalam memikirkan dan memberikan aspirasi serta berpartisipasi untuk kotanya. “Penataan kota memang tidak mudah, tapi pemerintah harus konsisten,” ujarnya.

 

Dr. Selly menyampaikan bahwa budaya masyarakat setempat juga cukup mempengaruhi kehidupan perkotaan tersebut. Misalnya, di Bandung, orang Sunda sejak dulu terkenal dengan keramahannya, termasuk kepada pendatang. Selain itu, orang Sunda tidak suka bertengkar atau sering menghindari konflik. Tapi sayangnya, mereka lemah dalam pengendalian di tempat publik.

 

“Contohnya, bila ada seseorang yang buang sampah sembarangan, jarang sekali kita melihat ada orang yang mengingatkan, ngageunggeureuhkeun. Setelah sampahnya menggunung, baru kita ribut,” tutur Dr. Selly yang juga aktif di Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI).

 

Ia juga menjelaskan bahwa pendatang itu memang tidak punya keterikatan terhadap kota ini. Kalaupun ada, sangatlah kurang. Ditambah dengan sikap masyarakat Sunda tadi, maka pemimpin yang tegas lah yang dibutuhkan saat ini. “Kita tidak bisa hanya menyediakan tempat sampah dan mengharapkan orang membuang sampah disitu. Karena yang kita lihat sekarang, ada tempat sampah pun, sampahnya ada di sampingnya bukan di dalamnya. Jadi harus tegas sanksi dan pengawasannya. Kontrol ini harus dari semua, pemerintah dan masyarakat,” imbuhnya.

 

Dr. Selly memaparkan bahwa salah satu pendekatan antropologi yang penting itu adalah dengan belajar dari turut mengalami. Orang menjadi tahu karena melihat, merasakan atau mengalami sendiri. Ini salah satu hal yang dapat menumbuhkan rasa kepemilikan atau self belonging. Pendekatan ini pun bisa dilakukan oleh pemerintah kota dan masyarakat. Keterlibatan kedua belah pihak dalam menata kota akan menjadi kontribusi yang baik bagi kotanya.

 

“Prinsipnya, orang dapat belajar lebih baik. Orang boleh baca buku satu rak, tapi belum tentu akan paham. Tapi bila kita lihat sendiri, mengalami sendiri, akan lebih cepat belajarnya, lebih mudah memahaminya,” pungkasnya.

 

Selain aktif mengkaji antropologi perkotaan, Dr. Selly juga mengkaji antropologi dari sisi gender, buruh  dan seni. Terkait kajian antropologi perkotaan, ia juga pernah menjadi narasumber dan pengkaji mengenai kawasan perkotaan di DKI Jakarta dan Kota Bandung. *

 

Laporan oleh: Marlia / eh

Sumber : www.unpad.ac.id

  • Sepakat sekali dengan Dr. Selly, banyak hal tidak bisa ‘tembus’ melalui literatur atau baca teks (jadi pemain bola, wirausahawan dsb), tapi mesti terjun ke lapangan alias punya jam terbang. 🙂

    Oya, waktu ke Bali yang terakhir, meski untuk daerah seperti Ubud atau Jembrana ‘ruh lokal’-nya (kultur, kearifan dll) masih cukup terasa, tapi sepanjang jalur Kuta-Legian terus sampai menjelang Kerobokan ‘rasa’ Balinya sudah sangat pudar. Di beberapa titik macet banyak motor (plat nomor luar Bali) sudah nyantai jalan di trotoar—mirip dengan di Jabodetabek (awal 2000-an sebelumnya, saya belum melihat ini). Dan ya, di lalur itu semakin sulit saja mencari ‘toko yang Bali’. Sekadar sharing, semoga manfaat.

    • Terima kasih untuk sharingnya..
      Terkait dengan kasus seperti di bali, kami melihat daerah kuta di bali telah menjadi semacam urban area, akibat masifnya pengembangan industri pariwisata di bali. dan hal ini adalah salah satu bentuk dilema pengembangan pariwisata berbasis budaya yang terjadi di Indonesia. Akibatnya cukup beragam, yang pertama tentu saja terjadinya komodifikasi yang membuat tradisi budaya masyarakat lokasi wisata secara perlahan mulai kehilangan makna dan fungsi, baik bagi masyarakat pendukung, apalagi bagi para pengunjung. Kedua, industri wisata telah memancing mengalirnya investasi besar-besaran dari pemerintah dan para pengusaha di bidang pelayanan bagi para pengunjung. Wisatawan yang notabene adalah orang-orang yang akan membuang uangnya di lokasi wisata adalah raja, oleh karena itu harus dimanjakan, sehingga sebisa mungkin menghabiskan uangnya disana. Perhatian yang berlebihan pada kepentingan wisatawan inilah yang membuat perkembangan suatu daerah wisata, bisa menuju sebuah kota yang boleh jadi berbeda dengan akar kehidupan sosial budaya masyarakat setempat.