Catatan Kecil Tentang Antropologi Pembangunan

Diversity-Tree

Salah satu bidang yang menjadi fokus kajian antropologi adalah pembangunan. Dalam perspektif antropologi, pembangunan adalah bagian dari kebudayaan. Pembangunan adalah eksistensi dari sejumlah tindakan manusia. Sementara, kebudayaan merupakan pedoman bagi tindakan manusia. Dengan demikian berdasarkan pemahaman antropologi, pembangunan berorientasi dan bertujuan untuk membangun masyarakat dan peradaban umat manusia.

Pembangunan berisi suatu kompleks tindakan manusia yang cukup rumit yang melibatkan sejumlah pranata dalam masyarakat. Menurut Koentjaraningrat (1980) bahwa hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan. Dalam pembangunan, masyarakat menjadi pelaku dan sekaligus objek dari aktivitas pembangunan. Keterkaitan atau korelasi antara masyarakat dan pembangunan akan terjadi melalui pengendalian dari kebudayaan. Di dalam kebudayaan, tatanan nilai menjadi inti dan basis bagi tindakan manusia. Fungsi elemen nilai (cultural value) bagi pembangunan adalah untuk mengevaluasi proses pembangunan agar tetap sesuai dengan standar dan kadar manusia.

Pembangunan dapat diartikan sebagai proses menata dan mengembangkan pranata-pranata dalam masyarakat, yang didalam pranata tersebut berisi nilai-nilai dan norma-norma untuk mengatur dan memberi pedoman bagi eksistensi tindakan masyarakat. Sejumlah pranata tersebut, antara lain pendidikan, agama, ekonomi, politik, ekologi, akan membentuk suatu keterkaitan fungsional guna mendukung, melegitimasi dan mengevaluasi komplek tindakan manusia tersebut. Dengan kata lain, pembangunan akan menyinggung isu pemeliharaan nilai dan norma masyarakat, namun sekaligus membuka ruang bagi isu perubahan sosial.

Dewasa ini, praktik pengembangan masyarakat telah bergeser paradigmanya dari yang awalnya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi (economic growth) menjadi pembangunan yang berparadigma berkelanjutan (sustainable development)[1]. Community development dibuat dan diselenggarakan dengan bertujuan untuk mencapai kondisi masyarakat dimana transformasi sosial dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Program community development memiliki tiga karakter yang perlu dicermati yang kesemuanya sangat bersifat adaptif terhadap masyarakat, yaitu community based, local resources based, dan sustainable. Dari 3 macam pendekatan tersebut, ada dua sasaran yang ingin dicapai, yaitu: sasaran kapasitas masyarakat dan sasaran kesejahteraan. Sasaran kapasitas masyarakat dapat dicapai melalui upaya pemberdayaan (empowerement) agar anggota masyarakat dapat ikut dalam proses produksi atau institusi penunjang dalam proses produksi, kesetaraan (equity), dengan tidak membedakan status dan keahlian, kemananan (security), keberlanjutan (sustainability) dan kerjasama (cooperation), semuanya berjalan simultan. Sehingga dengan adanya upaya-upaya tersebut maka sasaran kedua dapat dicapai yaitu kesejahteraan masyarakat.


[1] Pembangunan berparadigma berkelanjutan adalah hasil dari Earth Summit tahun 1972, di Rio De Janeiro, Brazilia. Lihat Rudito: 2003.

Sumber : nfprasetyo.blogspot.com 

Nopi Fajar Prasetyo

Alumnus antropologi Unpad, 3 tahun pengalaman di bidang consumer research dan kini aktif sebagai strategy planner di multinational FMCG.

More Posts

Follow Me:
Facebook