Budaya Nulis, Budayakan!

Seperti ngomong, kata Septiawan Santana dalam Menulis Ibarat Ngomong (2007), menulis juga gampang! Banyak orang yang pandai bicara tapi sulit ketika diminta nulis artikel. Bilangnya tak biasa lah, atau takut jelek, dan sebagainya. Padahal kata Septiawan, menulis juga baiknya mengalir sajalah tak perlu takut ini-itu. Kayak kita ngomong ngelantur, mengutarakan mimpi, curhat dengan teman karib, atau lagi marahin bawahan yang teledor. Kan gampang, tinggal cus.

 

Nah, nulis juga kayak gitu; berwarna dan punya nada. Adakalanya kita sebel sama penulis yang tulisannya suka menghujat. Tak sedikit pula yang jatuh cinta pada seorang penulis karena karya sastranya begitu memikat. Begitulah tulisan, ibarat ‘kalimat cinta’ yang kita bisikan pada kekasih. Dampaknya bisa begitu heboh, bisa juga tak sistemik. Septiawan menegaskan kemampuan macam itu perlu dilatih! Triknya cukup mudah. Ngomong saja, lalu tuliskan. Tak perlu takut salah atau takut tak sesuai EYD. Langkah Pertama adalah menghilangkan perasaan takut salah!

 

Biasanya orang selalu takut memulai hal baru yang sebenarnya bukanlah suatu dosa, dan mereka punya ‘masalah mental’ takut pada langkah pertama. Wow! Jangan-jangan? Tidak, mereka tak sedang gila. Hanya saja mereka cenderung tidak suka perubahan dan -kata Endra K dalam Breaking Your Mental Block (2009)- mereka suka mengeluh! Padalah perubahan itu manusiawi dan menulis merupakan tonggaknya. Ingat, dokumentasi tertulislah yang membedakan kita dengan masyarakat pra-sejarah.

 

Jadi, tunggu apa lagi! Segera ambil pena dan kertas (bisa juga menggunakan iPad atau Android Anda, ckck, jaman gini pake pena?) lalu tuliskan sesuatu. Apapun itu segera tuliskan. Mulai dari mimpi-mimpi besar Anda, mungkin pendapat Anda tentang Kebakaran Hutan yang dianggap ‘tidak masalah’ di mata hakim, atau sekadar menuliskan daftar belanja besok sore. Inilah Langkah Kedua, yaitu mulai tuliskan. Menulis juga mampu mengurangi ketegangan pikiran dan mengikis mental block dalam diri.

 

Endra menjelaskan teknik menulis dinilai ampuh guna mendongkrak kepercayaan diri seseorang. Biasanya bila seseorang terkena mental block yang akut, ia akan disuruh menulis oleh para psikiater. Hemat saya, bila orang ‘sakit’ disuruh nulis, ya supaya kita tidak ‘sakit’ kita mulai nulis dari sekarang. Bahkan, Septiawan di akhir bukunya bilang orang yang suka nulis itu ‘beruntung’. Selain hidupnya lebih sehat secara emosional. Mereka yang gemar nulis biasanya lebih kritis. Tak cuma asal ngedumel, tapi argumennya didukung oleh fakta dan data ilmiah. Mereka juga lebih baik dalam berkomunikasi lisan. Kosakata yang baik membuat para penulis tak gagu dalam percakapan.

 

Langkah Pamungkas adalah baca kembali tulisan kita. Disinilah proses editing berlangsung. Dengan membaca tulisan sendiri seolah membaca diri kita. Biasanya kita baru sadar bahwa kita berlebih dalam menulis saat kita baca ulang tulisannya. Tak cuma itu, langkah ini juga perlu sebagai koreksi ejaan dan kalimat secara baku. Bila perlu, minta teman kita yang baca dan dengarkan komentarnya. Masukan dari pihak lain membantu kita berbenah. Baik secara teori kepenulisan, ide dan gagasan, maupun gaya menulis.

 

Menuju Masyarakat Gemar Menulis

 

Antropolog asal Inggris Sir John (Jack) Rankine Goody (1968) mengemukakan pendapatnya tentang konsep masyarakat. Kata Bung Jack, Primitif Society menggunakan tradisi oral untuk transfer ilmu dan budaya. Mereka lebih suka ngomong, karena mudah dan cepat. Teknologi tulisan yang belum mumpuni adalah salah satu faktor yang mempengaruhi. Sedangkan Modern Society menggunakan tulisan sebagai sarana edukasi.

 

‘Tulisan’ dalam kaca mata Bung Jack sangat mangkus dalam percepatan transfer ilmu. Jangkauan tulisan juga dinilai luas dan massif. Terlebih saat Guttenberg (1436) menggunakan mesin cetak untuk produksi buku. Ketika itu sebaran ilmu pengetahuan kian menjamur. Apalagi sekarang, hadirnya internet makin memudahkan manusia berbagi. Dari hal sederhana saja; up-date status facebook. Meski remeh, tapi ini juga budaya menulis. Tentu yang kita harapkan budaya menulis yang lebih baik, tak sekadar curhat apalagi yang tak mutu. Mulailah berbagi pengetahuan jangan sekadar perasaan semata. Ayolah, mulai sekarang kita biasakan menulis. Apapun, tuliskan saja. Ingat kuncinya, jangan takut salah!

 

Muhammad Iqbal Tawakal

Lahir dan besar di Bandung. Lulusan Fikom Unisba dengan skripsi bertema citra terorisme dalam video game. Tertarik dunia video game, media massa, dan topik religi. Mengelola komunitas NXG Indonesia dan buletin Jumat digital Friday Reader's Club.