Antropologi Indonesia di Jagad Maya

file0001600559463

Kekosongan yang Mulai Terisi

Saat ini aktivitas di internet memang sudah menjadi “kehidupan kedua” bagi sebagian besar manusia di muka bumi. Memiliki sebuah akun sosial media, blog, atau bahkan website adalah pertanda seseorang sudah memiliki tempat di dunia maya, layaknya sebuah alamat-lengkap dengan rumahnya-jika di dunia nyata, atau bahkan sudah menjadi representasi atau avatar dari diri mereka sendiri. Dengan media-media tersebut, penghuni jagad maya bisa saling mengetahui keberadaan di antara mereka, saling mengunjungi dan berbagi berita. Meskipun tidak ada jaminan apa yang ditampilkan di media online sama dengan keadaan di dunia nyata, namun kita tidak dapat menutup mata, bahwa saat ini representasi yang dimunculkan di media sosial, bisa mempengaruhi “imej” seseorang atau suatu kelompok di dunia nyata.

Bergerak dari kondisi itu, pada tahun 2012 yang lalu, dalam autoetnograf (blog pribadi), lalu diterbitkan ulang dalam antronesia, saya pernah membuat tulisan yang berjudul “Menjelajahi Cakrawala Antropologi Via Media Online.” Tulisan itu melihat bahwa penting adanya, para pemangku ilmu antropologi di Indonesia memanfaatkan berbagai media online untuk mendukung penyebaran khazanah antropologi di Indonesia. Selain untuk tujuan penyebaran ilmu dan informasi di kalangan antropolog serta orang-orang yang sedang mempelajari antropologi, tentu saja, semua informasi tentang antropologi Indonesia di dunia maya adalah representasi yang turut mempengaruhi “imej” antropologi di dunia nyata.

Pada saat tulisan itu dibuat, saya melihat masih sedikit informasi tentang antropologi yang dapat ditemukan di media online Indonesia. Baru ada beberapa website yang secara resmi menyediakan konten-konten terkait informasi aktivitas atau kajian-kajian antropologi di Indonesia. Bahkan pada saat itu Asosiasi Antropologi Indonesia sebagai lembaga resmi yang menjadi representasi antropologi di Indonesia belum memiliki website resmi. Pada saat yang sama, juga masih sedikit media massa yang mengeluarkan berita-berita yang ada kata kunci antropologi-nya, mungkin masih menganggap bahwa antropologi bukanlah isu yang laku untuk dijual.

Namun syukurlah, setelah beberapa tahun yang telah berlalu, akhirnya secara perlahan “kekosongan” itu mulai terisi. Cukup menggembirakan jika melihat pertumbuhan informasi mengenai antropologi di Indonesia pada hari ini. Jika kita searching dengan kata kunci antropologi atau antropologi Indonesia, baik itu di “Google Search” maupun di “Google Scholars/Cendikia” sudah banyak sekali informasi yang disajikan kepada kita. Pertumbuhan informasi ini tentunya ditunjang oleh pertumbuhan konten-konten yang bermuatan kata kunci “antropologi” yang di upload oleh akun sosial media, blog, website dan pastinya dari pihak media massa. Selain itu, pertumbuhan tersebut juga didukung oleh terbukanya akses berbagai jurnal dan laporan penelitian antropologi secara online di Google Cendikia, website Portal Garuda atau di website repository masing-masing Universitas dan Perguruan Tinggi di Indonesia dan internasional.

Media Online untuk Literasi Antropologi Meningkat Secara Kuantitas dan Kualitas

Jika pada tulisan yang dulu saya mencatat beberapa website yang memuat konten-konten antropologi, dalam kesempatan ini saya akan mengupdatenya. Dari pantauan saya, fkai.org sepertinya sudah kembali bisa diakses lagi. Namun, untungnya Asosiasi Antropologi Indonesia sudah meluncurkan website resminya yang beralamat di asosiasiantropologiindonesia.or.id. Sementara itu jurusan antropologi di beberapa universitas telah membenahi website resmi mereka menjadi lebih menarik tampilannya dan informatif isinya. Kalau tidak percaya silahkan saja kunjungi anthropology.ui.ac.idantropologi.fib.ugm.ac.idantro.fisip.unair.ac.id, dan antropologi.fisip.unand.ac.id.

Untuk bahan-bahan bacaan bermutu, sekarang kita cukup terbantu dengan munculnya beberapa website yang sangat kaya dengan khazanah antropologi. Mulai dari antropologi UI dan Unand yang masing-masing telah membuat Jurnal Antropologi Indonesia dan Jurnal Antropologi : Isu-Isu Sosial Budaya bisa diakses secara online. Jurnal-jurnal ini tentu penting sekali untuk menjadi sumber referensi dalam mempelajari perkembangan isu antropologi terkini yang berkembang di Indonesia. Kemudian para antropolog dari UI yang membuat etnobudaya.net dan antropologi.or.id sebagai media berbagi informasi dan kajian antropologi yang konsern pada isu kesukubangsaaan, hubungan antar suku bangsa, multikulturalisme, dan demokrasi dan peran nyata antropologi bagi masyarakat Indonesia. Isu-isunya memang yang sangat “antrop UI” sekali.

Lalu kolaborasi para antropolog dari Unibraw, Unair, dan UGM tetap masih konsisten dengan isu etnografi kritis dan kajian sejarah di web etnohistori.org. Banyak sekali pembahasan menarik dan menggugah cara pandang kita dari website sini, namun jangan kecewa jika anda tidak bisa meng-copy paste tulisan tersebut, “it just for your eyes and your knowledge.” Last but not least, jika ingin melihat sudut pandang yang relatif baru bagi antropologi Indonesia, para kerabat bisa mengunjungi tulisan-tulisan pak Dede Mulyanto di kolom logika indoprogress.com. Dalam kolom logika yang diasuhnya tersebut, Dosen Antropologi Unpad ini menyajikan tulisan-tulisan segar terkait logika Marxisme yang diuraikan dengan membumi lewat sentuhan ilmu antropologi. Percayalah, selain seorang Marxis, beliau adalah antropolog tulen. Kalau tidak percaya, silahkan baca buku-buku karangannya.

Meningkatnya Berita Tentang Antropologi di Media Massa Online

Kita juga bisa melihat berita-berita tentang antropologi sudah sering muncul di media massa Indonesia. Setidaknya seperti beberapa berita berikut, yang diterbitkan secara online oleh media massa nasional dan dari media-media lokal. Berita-berita antropologi yang terkait isu-isu “hot” pada masanya mudah kita temui di berita online. Misalnya berita tentang Simposium Koentjaraningrat yang menyuarakan Pendekatan Antropologis Untuk Selesaikan Konflik Papua, dimana pada saat itu turut hadir tokoh-tokoh OPM ke UI Depok. Kita juga kerap mendengar dan membaca informasi keterlibatan antropolog sebagai Ahli Forensik Untuk Proses Identifikasi Korban tragedi kecelakaan pesawat Air Asia. Atau sebelumnya, saat bencana tanah longsor sering melanda negeri, sudut pandang antropologi digunakan untuk melihat bagaimana seharusnya mengelola pemindahan tempat tinggal para korban tersebut, seperti dalam berita yang berjudul Bencana dan Antropologi Tanah.

Kemudian saat publik Indonesia sedang disibukkan oleh isu Rohingya, ada juga media yang menerbitkan berita tentang peran Penelitian Antropologi sebagai Solusi Jangka Panjang Krisis Rohingya. Ketika Kesultanan Yogyakarta sedang berpolemik terkait perubahan gelar Sultan, pendapat dari antropolog UGM dijadikan sumber berita yang berjudul Penggantian Gelar Sultan Yogya Berefek ke Tradisi. Kemudian dalam kasus yang masih panas hingga artikel ini diturunkan, yakni kasus pembunuhan gadis cilik Angeline, di Bali, keluar berita, bahwa untuk mengatasi Keterangan Agus yang Berubah-Ubah, Polri Gunakan Pola Psiko-Antropologi sebagai metode untuk menguji kebenaran informasi.

Terkait dengan aktivitas penelitian yang kerap bersentuhan dengan kelompok-kelompok etnis, para antropolog sering dianggap penyambung lidah dari kelompok-kelompok yang ditelitinya. Pandangan seperti itu muncul dalam berita, seperti saat antropolog mengangkat betapa Kerasnya Kehidupan Suku Bajau yang Mengembara di Tiga Negara atau mempersoalkan derita Penganut Sunda Wiwitan Ketika Mereka Dipaksa Jadi Bunglon, karena tidak diakui keyakinannya secara resmi oleh pemerintah. Akan tetapi, tak semuanya memuji, ada juga berita miring tentang para antropolog yang dianggap telah merugikan masyarakat yang ditelitinya. Seperti berita yang berjudul Antropologi dan Sisi Senyap Kemanusiaan mengkritisi para antropolog di Papua sebagai pencari untung semata, tanpa mempedulikan kasus-kasus kekerasan yang sedang dialami oleh rakyat Papua. Atau seperti kritik masyarakat Aceh terhadap Kerusakan Sejarah Aceh, yang disebabkan oleh Snouck Hurgronje, sang antropolog andalan kolonial belanda untuk menakhlukan Aceh.

Dalam isu spesifik, seperti politik misalnya, kita bisa menemukan ada berita tentang Antropologi Capres di masa pilpres 2014, lalu pembahasan antropologi tentang Moral Ekonomi Korupsi, bahkan Penolakan AAI Terhadap RUU Kebudayaan juga disajikan. Sementara di ranah ekonomi, dalam media massa antropologi kerap tampil sebagai kritikus terkait masalah perekonomian di masyarakat. Seperti dalam berita tentang Pandangan Antropolog UGM tentang Pasar Rakyat. Namun di sisi lain, potensi penerapan ilmu antropologi dalam bisnis juga mulai dilirik dan bisa dikatakan paling laris saat ini, misalnya seperti dalam berita tentang Strategi Budaya Pemasaran dari perspektif antropologi. Dalam isu sosial, kita bisa menemukan bagaimana pandangan antropolog terkait upaya-upaya Penghentian Kekerasan Atas Dasar Agama mulai di dengar. Lalu media juga mulai bertanya tentang Degradasi Moral di Indonesia dan cara-cara mengatasinya.

Sementara dalam isu pendidikan, rupanya lebih banyak yang membahas tentang antropologi itu sendiri. Misalnya pernah terbit berita bahwa Minat Belajar Antropologi di Indonesia Masih Rendah. Lalu muncul juga berita bahwa dalam pertemuan Asosiasi Jurusan Antropologi Indonesia (Ajasi), para Antropolog se-Indonesia Bahas Strategi Pendidikan antropologi. Kemudian ada berita tentang para antropolog yang mengusulkan paradigma alternatif : Pentingnya Kearifan Timur di Dunia Pendidikan Indonesia. Bahkan ada berita tentang pernyataan Mendikbud bahwa Indonesia  Harus Jadi Pusat Kajian Antropologi Asia. Perhatian media terhadap pendidikan antropologi juga berimbas dengan diangkatnya berita tentang aktivitas mahasiswa antropologi. Seperti saat acara seminar JKAI di Unpad yang mendatangkan wakil ketua KPK, keluar berita tentang Wakil Ketua KPK Kuliahi Mahasiswa Antropologi se-Indonesia. Lalu ada juga berita tentang Laboratorium Antropologi USU yang Memotivasi Mahasiswa Jadi Pengusaha.

Berbagi Informasi Antropologi di Media Online dan Perannya dalam Membangun Pertumbuhan Peluang Kerja Bagi Sarjana Antropologi di Indonesia

Media online telah membuka gerbang kebuntuan upaya sosialisasi, edukasi dan literasi antropologi pada masyarakat Indonesia. Dengan media online, para pemangku antropologi bisa dengan mudah berbagi informasi dan masyarakat mudah mengakses informasi tersebut. Terbukanya pengetahuan tentang antropologi menyadarkan banyak pihak bahwa ilmu tersebut bisa digunakan untuk melihat berbagai persoalan di negeri ini dengan sudut pandang yang berbeda, dan lebih tepat sasaran. Sehingga semakin banyak perbincangan dan tulisan tentang antropologi yang dibagikan di media online. Jika ingin lebih melihat intensitas peningkatannya, kita juga bisa melihat berapa banyak tread dan perbincangan tentang antropologi di forum komunitas atau media jurnalisme warga seperti Kaskus dan Kompasiana.

Semua gejala itu menunjukkan bahwa antropologi telah beranjak meninggalkan keterasingannya dari pengetahuan publik di Indonesia, bahkan sudah bergerak menjadi isu yang populer, seksi dan menggoda. Bagi pihak perusahaan media, suatu isu yang banyak diperbincangkan adalah ceruk pasar yang berharga, dan itu harus direspon dengan tepat. Begitu juga saat antropologi mulai muncul ke permukaan, perusahaan media meresponnya dengan menerbitkan beragam berita yang terkait dengan khazanah ilmu antropologi. Bahkan beberapa perusahaan media mulai bergerak lebih jauh, misalnya seperti tempo.co yang telah mengambil langkah lebih maju dengan menyediakan Edisi Khusus Tempo tentang Antropologi Kuliner.

Satu hal yang bisa ditangkap dari kondisi ini adalah, daya jual antropologi di Indonesia telah meningkat. Dan bagi pandangan sebagian besar masyarakat yang telah diracuni logika kapitalisme ini, daya jual yang baik sama dengan posisi strategis, diperhitungkan, dihargai, dicari dan diminati. Logikanya, ketika permintaan tentang tulisan, kajian atau apapun yang terkait dengan antropologi semakin meningkat, maka akan meningkat pula kebutuhan akan orang yang punya kapabilitas di bidang antropologi. Sehingga akan ada pertumbuhan lowongan kerja bagi para sarjana antropologi di masa depan. Inilah harapan kita, sehingga para antropolog dan calon antropolog bisa memandang masa depannya dengan lebih optimis.

***

nb: Pemikiran ini benar-benar hanya sekedar pemikiran. Mungkin jika ingin mempercayainya dengan lebih mendalam, perlu kiranya terlebih dahulu melakukan penelitian tentang Relevansi Meningkatnya Publisitas dan Perbincangan tentang Antropologi di Media Online dengan Ketersediaan Lowongan Kerja Bagi Sarjana Antropologi. Jika hasilnya sesuai harapan, bersyukurlah. Jika tidak, ya setidaknya kita bisa membahas hal itu di tulisan berikutnya.

Rahmad Efendi

Memperoleh sarjana dari Antropologi Unpad. Senang membaca manga. Sedang belajar di bidang tulis menulis. Berminat dengan berbagai kajian tentang relasi kekuasaan dan ekonomi politik, terutama dalam korelasinya dengan isu pembangunan, sains, teknologi dan masyarakat.

More Posts - Website

Follow Me:
FacebookGoogle Plus