Antropologi di Zaman Postmodern

Oleh M Habib al-Fahri (Jonson Handrian Ginting)

Babak Baru Dunia Ilmu : Postmodernisme

 

Dunia terus mengalami sebuah proses yang tiada henti menuju perubahan demi perubahan. Perubahan paradigma selalu diawali dan dipandu oleh ilmu pengetahuan yang merupakan ranah kognitif manusia. Bersumber pada ranah perubahan kognitif selanjutnya menuju tahap perubahan nilai dan pada titik tertentu membentuk sebuah skill pada diri manusia dalam bentuk sikap dan perilaku sosial dalam kebudayaannya.

 

Pergeseran paradigma kognitif dalam hal ini, ilmu pengetahuan secara simultan akan melahirkan pergeseran yang signifikan pada ranah-ranah yang lain. Di sinilah secara kasatmata pergeseran kehidupan manusia terus mengalami gelombang yang tiada pernah berhenti, seperti gelombang peradaban yang terus bergerak terlihat tiada bertepi.

 

Pada literatur filsafat, biasanya babakan sejarah filsafat dibagi menjadi tiga. Pertama, Filsafat Yunani Kuno (ancient greek philosophy) yang didominasi oleh rasionalisme. Kedua, filsafat abad tengah (midle ages philosophy), biasanya disebut juga dengan istilah filsafat abad kegelapan (the dark ages philosophy) yang didominasi oleh tokoh-tokoh kristen. Ketiga, filsafat modern (modern philosophy) yang didominasi lagi oleh rasionalisme. Namun akhir-akhir ini agaknya telah muncul babak keempat, yaitu filsafat pascamodern atau postmodernisme (Tafsir, 2004: 78).

 

Jean-Francois Lyotard, adalah salah satu pemikir pertama yang menulis secara lengkap membahas mengenai postmodernisme sebagai fenomena budaya yang lebih luas. Lyotard, dalam bukunya The Postmodern Condition: A report on knowledge (1979) memandang postmodernisme muncul sebelum dan setelah modernisme, dan merupakan sisi yang berlawanan dengan modernisme. Hal ini diperkuat oleh pendapat Flaskas (2002:48) yang mengatakan bahwa postmodernisme adalah oposisi dari premis modernisme.

 

Beberapa di antaranya adalah gerakan perpindahan dari fondasionalisme menuju anti-fondasionalisme, dari teori besar (grand theory) menuju teori spesifik, dari sesuatu yang universal menuju sesuatu yang sebagian dan lokal, dari kebenaran yang tunggal menuju kebenaran yang beragam. Semua gerakan tersebut adalah mencerminkan tantangan postmodernist kepada modernist.

 

Oleh karena itu pemikiran postmodernis menjadi penting untuk memahami berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya yang tidak lagi memadai untuk dianalisis hanya berdasarkan paradigma ilmiah modern yang lebih menekankan kesatuan, homogenitas, objektivitas, dan universalitas. Sementara ilmu pengetahuan dalam pandangan postmodernis lebih menekankan pada pluralitas, perbedaan, heterogenitas, budaya lokal atau etnis dan pengalaman hidup sehari-hari.

 

Dengan kata lain, memahami postmodernisme berarti mengasumsikan pertanyaan tentang hilangnya kepercayaan pada proyek modernitas, munculnya semangat pluralisme, skeptisme, terhadap ortodoksi tradisional, serta penolakan terhadap pandangan bahwa dunia merupakan suatu totalitas yang universal, pendekatan terhadap harapan akan solusi akhir dan jawaban yang sempurna. Maka untuk memahaminya diperlukan kekayaan makna dan keluasan wawasan.

 

Postmodernisme, dalam ranah pengetahuan (knowledge), dimengerti oleh Lyotard sebagai ketidakpercayaan terhadap metanarasi (metanarrative) atau narasi besar (grand narrative). Selama ini (dalam abad modern) ilmu pengetahuan ilmiah atau sains, sebagai salah satu wacana yang mengklaim dirinya sebagai satu-satunya jenis pengetahuan yang valid.

 

Namun sains tak dapat melegitimasi klaim tersebut oleh karena ternyata aturan main sains bersifat inheren serta ditentukan oleh konsensus para ahli (ilmuwan) dalam lingkungan sains itu sendiri. Sains kemudian melegitimasi dirinya dengan merujuk pada suatu meta-wacana (meta-discourse); secara konkrit sains melegitimasi dirinya dengan bantuan beberapa narasi besar seperti dialektika Roh, heurmenetika makna, emansipasi subjek yang rasional, dan penciptaan kesejahteraan umat manusia. (Lyotard, 1989: xxiii).

 

Pada awal kemunculannya (bahkan sampai sekarang), paham ini mendapat banyak kritik dari berbagai kalangan. Namun di pihak lain, ternyata istilah Postmodernisme sudah memikat minat berbagai kalangan baik yang akademis ataupun non-akademis. Istilah ini memberi kontribusi dalam karya ataupun gagasan-gagasan baru, tentulah menunjukkan bahwa istilah ini memiliki kemampuan untuk mengartikulasikan beberapa krisis dan perubahan sosial budaya secara fundamental yang kini sedang atau yang telah dialami.

 

Boleh jadi, salah satu penyebab pandangan negatif terhadap Postmodernisme adalah kecenderungan umum yang mengidentikkan Postmodernisme itu hanya dengan kelompok post-strukturalis yang umumnya kaum neo-Nietzchean saja. Akibatnya postmodernisme jadi identik dengan kaum dekonstruksionis belaka, yang kerjanya hanya membongkar-bongkar segala tatanan dan kemudian menihilkan segala hal.

 

Sayang sekali, sebab dengan begitu yang muncul di permukaan dan diperbincangkan akhirnya hanyalah karikatur atau kulit dari Postmodernisme itu sendiri, sedang substansinya yang lebih berarti ternyata tak berhasil mencuat ke permukaan. postmodernisme memang bagai rimba belantara yang dihuni aneka satwa yang bisa sangat berbeda-beda jenisnya. Maka dengan sendirinya istilah’ postmodernisme memang merupakan istilah yang sangat longgar pengertiannya atau sangat ambigu juga. Ia digunakan untuk “memayungi” segala aliran pemikiran yang satu sama lain sering kali tidak persis saling berkaitan.

 

Ambiguitas dan kelonggarannya saya kira sebanding dengan istilah Modern itu sendiri. Ada banyak hal yang biasa disinyalir sebagai karakteristik umum kemodernan yang sebetulnya selalu dapat diragukan dan digugat pula. Dan dari sudut ini ketidakjelasan makna postmodernisme boleh jadi justru berakar pada ketidakjelasan makna kemodernan itu sendiri.

 

Kemunculan babakan baru dalam dunia filsafat ini tentu mempengaruhi berbagai ilmu pengetahuan karena terkait dengan cara pencarian kebenaran. Posmodernisme dengan segala ide, gagasan dan konsep yang dimilikinya merubah cara pandang berbagai ilmu pengetahuan dan menjadi sesuatu yang baru atau meleburkan cara pandang lama dengan yang baru.

 

Pada kondisi seperti ini, menarik untuk melihat bagaimana bentuk dan wajah ilmu antropologi di era ini? Perubahan perubahan apa saja yang terjadi pada dunia antropologi?.

 

Pengaruh Postmodernisme terhadap Antropologi

 

Pada dasarnya ilmu antropologi adalah ilmu yang empiris. Clifford berpendapat (1988) bahwa aspek empiris adalah landasan prinsipil dalam antropologi yang sangat tergantung pada penelitian dan deskripsi etnografik dan menolak reduksionisme.

 

Dalam antropologi, penggunaan faktor-faktor empiris dapat dikatakan berawal dari tokoh antropologi Polandia berkebangsaan Inggris, Bronislaw Malinowski (Ardener, 1985), karena Malinowski lah yang telah membuat antropologi menjadi sebuah disiplin yang dapat memenuhi kriteria ilmu pengetahuan.

 

Ada dua tindakan Malinowski yang telah membuat antropologi menjadi sebuah cabang ilmu pengetahuan modern, dalam arti bersifat empiris, objektif, replicable, dan verifiable, yaitu melakukan penelitian lapangan dalam waktu yang lama dan menulis etnografi yang holistik atau utuh dan menyeluruh (Ahimsa-Putra, 2015: 11).

 

Perpindahan era dari modernisme ke postmodernisme tentu mempengaruhi beberapa unsur penting dalam dunia antropologi terkait fungsi, makna konsep dan metode, bahkan ada beberapa tokoh yang mendefinisikan ulang istilah antropologi itu sendiri dalam logika berpikir postmodernisme. Berikut beberapa perubahan tersebut dari berbagai sumber.

 

“Post-modern anthropology is the study of man “talking.” Discourse is its object and its means. Discourse is at one a theoretical object and a practice, and it is this reflexivity between object and means that enables discourse, and that discourse creates. Discourse is the maker of the world, not its mirror. It represents the world only inasmuch as it is the world. The world is what we say it is, and what we speak of is the world. It is the “saying in which it comes to pass that world is made to appear” (Heidegger 1971: 101)”.

 

Heideger berpendapat bahwa antropologi postmodern adalah studi mengenai pembicaraan. Hal ini cukup beralasan karena pembicaraan-pembicaraan akan menghasilkan wacana. Dengan kata lain, wacanalah yang membentuk dunia. Apa yang kita lihat oleh mata kepala kita di dunia ini adalah wacana manusia itu sendiri. Realitas yang terjadi juga merupakan wacana-wacana sekelompok orang tertentu, bahkan individu pun bisa membuat realitas wacananya sendiri. Oleh karena itu, wacanalah yang menjadi objek pada era ini. Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa:

 

“Post-modern anthropology replaces the visual metaphor of the world as what we see with a verbal metaphor in which world and word are mutually implicated, neither having priority of origin nor ontic dominance (cf. Tyler 986[b]). Berkeley’s esse est percipi becomes “to be is being spoken of.” Post-modern anthropology rejects the priority of perception, and with it the idea that concepts are derived from “represented” sensory intuitions, that the intelligible is the sensible “re-signed.” There is no movement from original substance to derived “spirit,” from thing to concept, from mind to material, or from the real to the less real. The mutuality of word, world, and mind is beyond time and space, located nowhere but found everywhere.”

 

Tyler berpendapat bahwa dunia ini adalah dunia yang penuh metafor. Metafor-metafor yang tervisual melalui mata kini berubah menjadi metafor verbal yang tidak memiliki prioritas asal dan dominasi autentik. Dengan kata lain, post-modern antropologi menolak segala bentuk metafor universal yang dijadikan “blue print” sebagai standar yang digeneralisir pada setiap orang. Tidak ada satu metafora pun yang mampu mewakili metafor kecil individu lainnya. Selain hal di atas, muncul juga pandangan bahwa:

 

“Seeing is always mediated by saying. Post-modern anthropology is thus the end of an illusion. It ends the separation of word and world created by writing and sustained by language-as-logos, that “univocal picture” projected in words from the standpoint of the all-seeing transcendental ego whose real message is that the world is a fable (cf. Nietzsche 1911: 24; Derrida 1976: 14).”

 

Pandangan ini menyatakan bahwa melihat selalu dimediasi dengan perkataan. Dalam hal ini antropologi postmodern adalah akhir dari ilusi yang dimediasi oleh perkataan. Sesuatu yang berasal dari ego tidak akan bisa diproyeksikan untuk sebuah universalitas. Pada intinya, sebuah pandangan ego adalah konstruksi atau dekonstruksi semata.

 

Istilah antropologi postmodern memang belum mendapatkan kesepakatan dari para ilmuwan sosial terutama ilmuwan antropologi karena wilayah cakupan dari postmodern itu sendiri sangat luas, postmodernisme memayungi berbagai cabang ilmu pengetahuan. Penjelasan di atas hanyalah sebagian dari tafsir istilah antropologi postmodern.

 

Di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia, kajian-kajian bernuansa postmodern lebih banyak dilakukan oleh mereka yang menaruh perhatian misalnya pada gender studies (kajian jender) dengan paradigma feminis, atau mereka yang tertarik pada cultural studies (kajian budaya), terutama mengenai budaya media, budaya pop, gaya hidup, fashion, dan sebagainya (Ahimsa-Putra, 2015: 4).

 

Konsekuensi Etnografi Kolaboratif

 

Konsekuensi pengaruh postmodernisme dalam antropologi pada akhirnya menyentuh metode etnografi. Sebelum era ini, karya-karya etnografi yang menonjol adalah menggunakan paradigma interpretatif dan positivisme. Dengan kata lain, etnografi tersebut mencoba untuk merumuskan hukum-hukum atau pola-pola tertentu dan mencari makna dari fenomena-fenomena sosial tertentu .

 

Dalam paradigma postmodern ini, sebuah karya etnografis menekankan bahwa tidak ada kebenaran tunggal. Teks etnografi yang ditulis oleh sang etnografer bisa bebas diinterpretasikan oleh pembacanya yang bisa berkaitan dengan aspek biografis atau konteks hidup pembaca. Roland Barthes menyatakan bahwa “the writer is dead”. Hal ini maksudnya ialah sang etnografer sudah tidak lagi berhak atas tulisannya. Ketika sudah di tangan pembaca, teks menjadi hal yang multi-interpretasi, teks penulis berdialog dengan pembacanya dan menghasilkan teks baru.

 

Tradisi pos-strukturalis membuat sang etnografer yang awalnya sebagai pusat, menjadi dipinggirkan (decentering the center). Bahwa penulis mengharapkan pembaca tidak hanya merasa didikte oleh realitas yang dibangun penulis melalui karya etnografinya. Pembaca diharapkan membangun teks baru melalui proses dialog dengan bacaannya etnografinya dan berusaha mencari kebenaran-kebenaran pembaca setelah melalui proses refleksi atas sebuah karya etnografi (Ekazaki, 2016:12).

 

Sebuah etnografi dalam postmodernisme tidaklah mengejar suatu objektivitas. Upaya untuk melukiskan sebuah realitas sebenarnya dianggap sebagai kegiatan yang sia-sia karena dalam pelukisan sebuah kebudayaan pasti tidak akan terlepas dari subjektivitas penulis, mulai dari penulisan proposal, pengumpulan data, penyeleksian data hingga ke tahap analisis.

 

Untuk itu postmodernisme menekankan pentingnya retorika dalam sebuah bangunan argumentasi dan sebagai sebuah kritik kebudayaan. Dalam konteks penyajian etnografi, paradigma postmodern tidak berkaitan dengan penjelasan mengenai gejala kebudayaan saja, tetapi lebih sebagai penyajian kerja analisis dan hasil analisis melalui retorik yang tepat. Hal ini dikenal juga dengan tipe etnografi eksperimental (Ahimsa-Putra, 2015).

 

Dalam gagasan eksperimental, etnografi ini sebenarnya terkandung gagasan Barthes tentang matinya sang penulis. Dalam etnografi seperti ini peran penulis, pembaca, dan teks bergeser. Pandangan postmodern mengesampingkan keutamaan penulis dan mengamplifikasi pentingnya peran pembaca dan teks sebagai dua hal yang saling mempengaruhi. Pembaca dan teks berada dalam relasi inter-referential. Makna tidak inheren dalam teks, namun terletak pada interaksi antara pembaca dan teks.

 

Hal ini juga merupakan sebuah penolakan akan kebenaran tunggal dalam paradigma modern. Di sini pada tataran ekstrem bukanlah penulis yang paling tahu akan apa yang dia tulis. Pembaca dan penulis dianggap setara dan berbagi pengetahuan dengan medium teks tersebut (Rosenau, 1992:26).

 

Bentuk metode penelitian dalam paradigma postmodern ini sering muncul seperti bentuk penelitian alternatif (transformatif) partisipatoris. Kenyataan itu dibentuk oleh informan dan subjektifitas peneliti. Sehingga penelitian berparadigma postmodern akan menghasilkan “kebenaran” yang subjektif. Dengan demikian peneliti akan ambil bagian politis dalam suatu tindakan kolaboratif. Jika diterapkan dalam sebuah penelitian etnografis yang kualitatif sehingga varian etnografi yang dihasilkan akan memuat proses reflektif daripada suatu temuan yang bebas nilai (Ekazaki, 2016:11).

 

Proposisi ini menuntut antropologi menjadi bagian dari suatu gerakan perubahan sosial dalam komunitasnya. Antropologi dituntut berpartisipasi dalam menciptakan sejarah dengan menyelesaikan lima masalah yang ada di Indonesia di mana antropologi bisa berkontribusi di sana, masalah itu ialah: integrasi nasional, pertumbuhan penduduk, perubahan sosial budaya, pendidikan dan pengembangan komunitas. (Laksono, 2009:4).

 

Kesimpulan

 

Sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang empirik, ilmu antropologi mengalami perubahan serta perkembangan ke arah-arah tertentu dan sampai sekarang ilmu antropologi terus berkembang mengikuti perkembangan zaman.

 

Postmodernisme adalah salah satu era yang berada pada “jalur” ilmu antropologi dan akan datang era-era selanjutnya di mana akan memberi pengaruh-pengaruh lain dalam proses pencarian kebenaran dan karya representasi ilmu antropologi.

 

Tulisan ini rasanya sangat jauh dari kata sempurna, masih banyak yang perlu digali, dibahas dan ditegaskan, namun setidaknya tulisan ini mampu menjadi pijakan dan jembatan serta memberikan sebuah bentuk visualisasi gambaran perkembangan ilmu antropologi di era postmodernisme.

Daftar Pustaka

 Clifford, J. (1988). The pradicament of culture. Cambridge: cambridge university press.
Laksono, PM. 2009. Peta Antropologi Indonesia Abad ke Dua Puluh Satu.Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Flaskas, Carmel. 2002. “Family Therapy Beyond Postmodernism”. London: Routledge.
Heidegger, Martin. 1971. On the Way to Language. New York: Random House
Kurnia, Ekazaki. 2016. “Antropologi Postmodern”. Yogyakarta: Tugas makalah Epistimologi Antropologi. Makalah tidak dipublikasikan.
Lyotard, Jean. 1989. “The Postmodernisme and Condition: A Report on     Knowledge”. Oxford: Manchester University press.
Tafsir, Ahmad. 2004. “Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistimologi Dan Aksiologi Ilmu Pengetahuan”. Bandung: Rosda.
Tyler, stepher. 1986b. “Post-modern Ethnography: From Document of the Occult to Occult Document.” in Writing Culture: The Poetics and Politics of Ethnography,    ed. James Clifford and George E. Marcus. Berkeley: University of California       Press.
Rosenau, Pauline Marie. 1992. “Post-Modernism and The Social Science: Insights, Inroads, Intrusions”. West Sussex:Pricenton University Press.

M Habib al Fahri

Alumnus Antropologi Unand, sedang belajar di Pasca Sarjana Antropologi UGM, Menyenangi isu-isu antropologi kontemporer, seperti budaya pop, gaya hidup dan konsumerisme.