Menjadi Antropolog – Wawancara dengan Anton Rahmadi, Senior Community Relations di Halliburton

“Menjadi Antropolog” merupakan sebuah tulisan yang menyajikan wawancara terhadap para antropolog (dan para profesional yang turut berkecimpung dalam dunia antropologi). Tulisan ini menyajikan refleksi narasumber mengenai pendidikan antropologi dan upaya mengaplikasikan ilmu antropologi di ranah pekerjaan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menjadi sumber informasi dan inspirasi, lewat gambaran variasi ranah pekerjaan, skill, dan kompetensi yang dimiliki para antropolog kepada semua orang yang tertarik terhadap apa yang sebenarnya dilakukan oleh para antropolog.

 

Dalam tulisan kali ini kami menyajikan wawancara dengan narasumber yaitu Anton Rahmadi, saat ini berprofesi sebagai senior community relations di Halliburton, dan berikut adalah catatan wawancara dengan beliau:

 

Bagaimana awal karier kang Anton di bidang community relation?

 

Karier pertama saya berawal dari program management trainee di salah satu pemimpin industri retail Indonesia. Sayangnya passion saya bukan disitu, bukan terus-terusan mengejar target sale. Saya lebih berminat bekerja di lapangan, untuk masuk ke kampung-kampung, berbincang dan berusaha memahami orang-orang, dan membangun kesepahaman antara perusahaan dengan masyarakat. Dulu saya punya semacam idealisme bahwa hendaknya masyarakat sekitar kawasan industri ekstraktif harus dibangun kesejahteraannya sesuai dengan potensi yang ada, agar mereka bisa mandiri dan berkembang bersama perusahaan.Yah idealisme ini juga yang akhirnya mengantar saya pada sebuah karier baru. Tahun 2006 menjadi awal karier saya berkecimpung di dunia CSR (Corporate Social Responsibility). Saya mulai bekerja pada sebuah perusahaan batubara di Kalimantan Selatan, saat itu sebagai Community Relations.

 

Seperti apa kang Anton menilai pekerjaan saat ini dan bagaimana mengaplikasikan keilmuan antropologi di dalamnya?

 

Inti dari sebuah projek industri mining dan migas adalah tercapainya social license to operate, ijin sosial dari masyarakat sekitar wilayah pertambangan. Bos saya dulu orang Australia pernah bilang,“meskipun trilyunan investasi sudah ditanam, engineer paling canggih dan mutakhir sudah didatangkan, tapi kalau tidak ada ijin secara sosial sama saja dengan omong kosong.”

 

Sebab itulah, kalau berbicara tentang pekerjaan community relations saat ini, banyak sekali suka dan dukanya ya. Dukanya, tidak jarang kita harus menghadapi demonstrasi, pengancaman atau bahkan intimidasi dari sekelompok pihak. Tapi saya selalu berpikir positif kalau terjadi demonstrasi itu karena ada ketidaktahuan atau kesalahpahaman, atau bisa jadi karena adanya provokator dari luar.

 

Dalam kondisi inilah ilmu antropologi begitu penting perannya dalam pekerjaan community relation. Kemampuan kita dalam membuat stakeholder mapping, social mapping, baseline study, need assesment dan sebagainya sangat dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan insightmengenai masyarakat di suatu lokasi secara holistik, beranjak dari cara pandang masyarakatnya, tidak berlandaskan persepsi kita semata. Informasi ini dapat digunakan oleh manajemen untuk pengambilan keputusan dan penyusunan strategi agar bisa merespon aspirasi masyarakat secara lebih tepat. Dalam hal ini kami bisa menggunakannya untuk merancang bentuk program-program CSR yang tepat sasaran. Sehingga bisa memperbaiki hubungan perusahaan dan masyarakat, untuk kemudian bisa meraih ijin sosial sosial dari masyarakat.

 

Bagaimana menurut Akang pengembangan karier lulusan antropologi di bidang pertambangan dan migas?

 

Bagus banget. Apalagi untuk industri pertambangan dan migas saat ini banyak dicari.Saat ini seringkali yang menjadi concern Pemerintah Indonesia adalah bagaimana kontribusi perusahaan pada masyarakat, menyusul kemudian baru masalah keselamatan dan produksi. Sehingga kebutuhan akan sarjana ilmu sosial untuk meng-handle concern tersebut selalu ada. Banyak senior-senior antropologi yang saat ini berkarier seperti saya.

 

Di Halliburton sendiri saya sudah hampir dua bulan bergabung. Saya dipinang oleh mereka, diminta bergabung untuk support project  Sarulla Geothermal 330 Megawatt, di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara yang merupakan salah satu geothermal power terbesar di Asia Tenggara.

 

Saat ini kan tren energi telah bergeser dari energi fosil ke energi terbarukan, geothermal salah satunya. Dengan karakteristik wilayah geothermal yang dekat dengan pedesaan tentunya menjadi tantangan sendiri bagi perusahaan untuk mendapatkan ijin operasi dan membangun relasi dengan masyarakat di sana. Ini salah satu peluang yang membuat antropolog penting bagi industri ini. Karena perspektif antropologi yang holistik, sangat membantu kita dalam bekerja di dalam tim yang multidisiplin. Kita bisa membantu tim menggali kearifan lokal masyarakat yang mungkin bisa dikembangkan.

 

Bagi sarjana antropologi yang tertarik dan ingin berkarier di industri pertambangan dan migas, ada beberapa skill yang wajib kita miliki. Seperti effective communication, public speaking, pahami juga ISO 26000. Jangan remehkan kemampuan bahasa asing juga, terutama bahasa Inggris, di industri ini banyak bule-nya! Kemampuan kita dalam bernegosiasi juga penting. Kemampuan strategic analytical thinking juga harus terus diasah. Kemudian banyak bergaul, dan jangan lupa berdoa.

 

Apa pesan kang Anton untuk para generasi muda, para mahasiswa dan sarjana antropologi?

 

Terus belajar, banyak bergaul, jangan malas membaca dan cari informasi di internet. Negara kita ini aneka rupa suku bangsanya, ini modal kita untuk bisa mengambil peran disana, untuk berkontribusi.

 

Oh iya, jangan anggap antropolog hanya jadi peneliti saja, tapi lebih dari itu harus bisa menjadi seorang “arsitek” atau bahasa kerennya social engineer, tapi untuk yang baik-baik ya.

Biodata singkat narasumber

 

Anton Rahmadi

Senior Community Relations di Halliburton, lulusan program sarjana Antropologi Universitas Padjadjaran tahun 2004. Sebelumnya berkarier sebagai community and government relations di Borneo Indobara dan superintendent community relations di G-Resources Martabe Gold Mine.

Nopi Fajar Prasetyo

Alumnus antropologi Unpad, 3 tahun pengalaman di bidang consumer research dan kini aktif sebagai strategy planner di multinational FMCG.